Prasasti adalah salah satu rekaman tertulis tentang masa lampau. Prasasti menulis suatu peristiwa yang cukup penting pada masa prasasti itu ditulis atau dibuat. Pembuatan prasasti selalu didasarkan pada perintah raja. Tujuannya adalah untuk mengabadikan suatu peristiwa penting yang dialami oleh seorang raja atau sebuah kerajaan.
Contoh prasasti yang berhasil ditemukan di wilayah Indonesia dan terkait dengan suatu peristiwa penting yang terjadi pada masa lalu itu diantaranya:
1) Prasasti Yupa dari kerajaan Kutai. Prasasti ini dibuat dalam rangka upacara penghormatan terhadap para pendahulu dan pemberian hadiah kepada para pendeta atau kaum Brahmana yang memimpin upacara tersebut.
2) Prasasti Tugu dari kerajaan Tarumanegara. Prasasti ini dibuat untuk memperingati keberhasilan Raja Purnawarman membuat saluran irigasi untuk meningkatkan kesejahteraan rakyatnya.
3) Prasasti Ratu Boko dari kerajaan Syailendra. Prasasti ini dibuat atas perintah Raja Balaputra Dewa, yang bertujuan untuk mengenang kekalahan Raja Balaputra Dewa dalam perang saudara melawan kakanya yang bernama Putri Pramodhawardhani. Karena kekalahan itu, Raja Balaputra Dewa lari ke kerajaan Sriwijaya.
4) Prasasti Ligor dari Kerajaan Sriwijaya. Prasasti ini dibuat sebagai tanda bahwa kerajaan Sriwijaya telah membangun ibu kota baru di Semenanjung Malaya yang bernama Ligor.
5) Prasasti Canggal dari kerajaan Mataram Hindu. Prasasti ini dibuat atas perintah Raja Sanjaya. Prasasti ini merupakan peringatan bahwa kerajaan Mataram Hindu berhasil didirikan oleh Raja Sanjaya di sekitar Jawa Tengah.
6) Prasasti Kalasan dari kerajaan Syailendra. Prasasti ini menyebutkan seorang raja dari dinasti Syailendra yang berhasil menunjuk Rakai Panangkaran untuk membuat sebuah bangunan suci untuk Dewi Tara dan sebuah biara untuk para pendeta.
7) Prasasti Mantyasih dari kerajaan Mataram. Prasasti ini dibuat atas perintah Raja Diah Balitung. Prasasti itu menyebutkan daftar raja-raja yang pernah memerintah kerajaan Mataram, yaitu mulai dari Raja Sanjaya sampai Raja Diah Balitung.
manfaat
ilmu pengetahuan yang punya manfaat bagi kehidupan
Senin, 20 Mei 2013
Pengertian mitologi dan legenda
Mitologi adalah ilmu tentang kesusastraan yang mengandung konsep tentang dongeng suci, kehidupan para dewa, dan makhluk halus dalam suatu kebudayaan. Atau suatu cerita tentang kehidupan suatu bangsa pada masa lampau yang memiliki hubungan erat dengan para dewa dan para pahlawannya. Mitologi juga berarti cerita tentang asal mula alam semesta, manusia, dan bangsa yang diungkapkan dengan cara-cara gaib dan mengandung arti yang sangat dalam. Setiap suku bangsa yang berada di wilayah Indonesia memiliki mitologi. Cerita yang dimilikinya biasanya terkait dengan sejarah kehidupan masyarakat di suatu daerah, misalnya tentang awal mula masyarakat menempati daerah itu. Umumnya dimitoskan bahwa ada tokoh yang kuat dan sakti yang dulu memimpin masyarakat menempati daerah itu.
Legenda adalah sebuah cerita rakyat pada masa lalu yang masih memiliki hubungan dengan peristiwa-peristiwa sejarah atau dengan dongeng-dongeng, seperti cerita tentang terbentuknya suatu negeri, danau, gunung, dan lain sebagainya. Legenda sebagai suatu cerita telah menjadi cerita rakyat dan setiap daerah di Indonesia memilikinya. Cerita ini diwariskan secara turun-temurun. Legenda biasanya berisi petuah atau petunjuk mengenai apa yang benar dan apa yang salah. Dalam legenda dimunculkan berbagai sifat dan karakter manusia dalam menjalani kehidupannya, yaitu sifat yang baik dan sifat yang buruk, sifat yang benar dan sifat yang salah, untuk kemudian dijadikan sebagai pedoman bagi generasi selanjutnya. Contoh legenda yang terkenal diantaranya adalah legenda Banyuwangi, Gunung Tangkuban Perahu, Danau Toba, dan lain-lain.
Legenda adalah sebuah cerita rakyat pada masa lalu yang masih memiliki hubungan dengan peristiwa-peristiwa sejarah atau dengan dongeng-dongeng, seperti cerita tentang terbentuknya suatu negeri, danau, gunung, dan lain sebagainya. Legenda sebagai suatu cerita telah menjadi cerita rakyat dan setiap daerah di Indonesia memilikinya. Cerita ini diwariskan secara turun-temurun. Legenda biasanya berisi petuah atau petunjuk mengenai apa yang benar dan apa yang salah. Dalam legenda dimunculkan berbagai sifat dan karakter manusia dalam menjalani kehidupannya, yaitu sifat yang baik dan sifat yang buruk, sifat yang benar dan sifat yang salah, untuk kemudian dijadikan sebagai pedoman bagi generasi selanjutnya. Contoh legenda yang terkenal diantaranya adalah legenda Banyuwangi, Gunung Tangkuban Perahu, Danau Toba, dan lain-lain.
Minggu, 19 Mei 2013
Jenis-jenis sejarah
Jenis-jenis sejarah yang dimaksud adalah sebagai berikut:
1) Sejarah lokal. Mengandung suatu pengertian bahwa suatu peristiwa yang telah terjadi hanya meliputi suatu daerah dan tidak menyebar ke daerah yang lainnya. Peristiwa itu muncul hanya di daerah yang bersangkutan saja.
2) Sejarah nasional. mengandung suatu pengertian bahwa suatu peristiwa yang telah terjadi mencakup kawasan yang lebih luas dari sejarah lokal. Sejarah nasional meliputi suatu peristiwa yang terjadi dalam suatu negara dan dapat mempengaruhi kehidupan bangsanya dalam berbagai sektor seperti sektor politik, ekonomi, sosial, budaya, dan lain sebagainya.
3) Sejarah dunia. Mengandung suatu pengertian bahwa suatu peristiwa yang terjadi dapat mempengaruhi perkembangan dunia internasional. Peristiwa yang terjadi dapat meliputi berbagai masalah dari beberapa negara.
4) Sejarah geografi. Geografi merupakan suatu ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang bumi. Pembahasan dalam geografi menyangkut tentang geologi (ilmu tanah), flora (ilmu tumbuhan), fauna (ilmu hewan), dan manusia. Masalah sejarah juga memiliki keterkaitan dengan masalah geografi. Karena sejarah membahas masalah-masalah atau peristiwa-peristiwa yang telah terjadi, maka untuk menjawab suatu pertanyaan tentang lokasi suatu peristiwa, secara langsung atau tidak langsung para ahli mengaitkannya dengan tempat atau lokasi kejadiannya. Untuk menentukan tempat kejadian itu, ilmu geografi tidak dapat ditinggalkan, karena para ahli akan mempertanyakan tentang mengapa di tempat tersebut terjadi suatu peristiwa sejarah.
5) Sejarah ekonomi. Sejarah ekonomi bangsa berkembang dari tingkat ekonomi yang sangat sederhana ke tingkat ekonomi yang lebih luas lagi, bahkan tidak pernah tertinggal dengan masalah-masalah nasional dan internasional.
6) Sejarah ketatanegaraan dan politik pemerintahan.
7) Sejarah sosial. Bicara tentang sejarah sosial, tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat. Karena masalah-masalah sosial yang menjadi pendorong munculnya suatu peristiwa bersejarah mulai berkembang di masyarakat.
1) Sejarah lokal. Mengandung suatu pengertian bahwa suatu peristiwa yang telah terjadi hanya meliputi suatu daerah dan tidak menyebar ke daerah yang lainnya. Peristiwa itu muncul hanya di daerah yang bersangkutan saja.
2) Sejarah nasional. mengandung suatu pengertian bahwa suatu peristiwa yang telah terjadi mencakup kawasan yang lebih luas dari sejarah lokal. Sejarah nasional meliputi suatu peristiwa yang terjadi dalam suatu negara dan dapat mempengaruhi kehidupan bangsanya dalam berbagai sektor seperti sektor politik, ekonomi, sosial, budaya, dan lain sebagainya.
3) Sejarah dunia. Mengandung suatu pengertian bahwa suatu peristiwa yang terjadi dapat mempengaruhi perkembangan dunia internasional. Peristiwa yang terjadi dapat meliputi berbagai masalah dari beberapa negara.
4) Sejarah geografi. Geografi merupakan suatu ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang bumi. Pembahasan dalam geografi menyangkut tentang geologi (ilmu tanah), flora (ilmu tumbuhan), fauna (ilmu hewan), dan manusia. Masalah sejarah juga memiliki keterkaitan dengan masalah geografi. Karena sejarah membahas masalah-masalah atau peristiwa-peristiwa yang telah terjadi, maka untuk menjawab suatu pertanyaan tentang lokasi suatu peristiwa, secara langsung atau tidak langsung para ahli mengaitkannya dengan tempat atau lokasi kejadiannya. Untuk menentukan tempat kejadian itu, ilmu geografi tidak dapat ditinggalkan, karena para ahli akan mempertanyakan tentang mengapa di tempat tersebut terjadi suatu peristiwa sejarah.
5) Sejarah ekonomi. Sejarah ekonomi bangsa berkembang dari tingkat ekonomi yang sangat sederhana ke tingkat ekonomi yang lebih luas lagi, bahkan tidak pernah tertinggal dengan masalah-masalah nasional dan internasional.
6) Sejarah ketatanegaraan dan politik pemerintahan.
7) Sejarah sosial. Bicara tentang sejarah sosial, tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat. Karena masalah-masalah sosial yang menjadi pendorong munculnya suatu peristiwa bersejarah mulai berkembang di masyarakat.
Pengertian historiografi
Historiografi merupakan suatu penulisan sejarah. Historiografi bermula dari pertanyaan dan berkembang menuju peningkatan kematangan pertanyaan historis yang diajukan. Tetapi hal itu pun belum mencakup semua aspek permasalahan. Dari manakah pertanyaan yang ditanyakan itu berasal? Pertanyaan yang didorong oleh rasa ingin tahu, hanyalah akan menghasilkan historiografi yang bersifat akurat, keunggulan jawaban berhenti dengan kenikmatan. Tidak salah secara moral maupun secara ilmiah. Bahkan sejarah sebagai suatu usaha untuk merekonstruksikan aspek-aspek tertentu dari kelampauannya, ternyata adalah gagasan yang relatif baru dalam sejarah historiografi. Penulisan sejarah dalam historiografi lebih merupakan ekspresi budaya daripada usaha untuk merekam masa lalu.
Oleh karena itu, historiografi ialah ekspresi budaya dan pantulan dari keprihatinan sosial masyarakat atau kelompok sosial yang menghasilkannya. Historiografi yang dihasilkan oleh para literatur yang dipelihara oleh penguasa, tentu saja dapat memperkuat legitimasi serta mempertahankan dasar nilai yang menjadi sandaran ideologi kekuasaan. Hal ini terlihat jelas dalam berbagai penulisan sejarah tradisional di tanah air kita. historiografi merupakan rekaman tentang segala sesuatu yang pantas dicatat sebagai bahan pelajaran tentang perilaku yang baik dan lumrah.
Historiografi tradisional memantulkan pandangan dunia dari masyarakat yang menghasilkannya. Oleh karena itu, hal ini dapat menjadi referensi dalam usaha para pendukungnya untuk mengerti dan memenuhi realitas yang berkembang di sekitarnya. Dengan kata lain, historiografi tradisional merupakan pancaran dari kesadaran tentang segala hal yang wajar dan dapat berfungsi sebagai kerangka untuk memberi interpretasi terhadap situasi.
Oleh karena itu, historiografi ialah ekspresi budaya dan pantulan dari keprihatinan sosial masyarakat atau kelompok sosial yang menghasilkannya. Historiografi yang dihasilkan oleh para literatur yang dipelihara oleh penguasa, tentu saja dapat memperkuat legitimasi serta mempertahankan dasar nilai yang menjadi sandaran ideologi kekuasaan. Hal ini terlihat jelas dalam berbagai penulisan sejarah tradisional di tanah air kita. historiografi merupakan rekaman tentang segala sesuatu yang pantas dicatat sebagai bahan pelajaran tentang perilaku yang baik dan lumrah.
Historiografi tradisional memantulkan pandangan dunia dari masyarakat yang menghasilkannya. Oleh karena itu, hal ini dapat menjadi referensi dalam usaha para pendukungnya untuk mengerti dan memenuhi realitas yang berkembang di sekitarnya. Dengan kata lain, historiografi tradisional merupakan pancaran dari kesadaran tentang segala hal yang wajar dan dapat berfungsi sebagai kerangka untuk memberi interpretasi terhadap situasi.
Pengertian kitab
Kitab merupakan sebuah karya sastra para pujangga pada masa lalu yang dapat dijadikan sebagai petunjuk untuk menyingkapkan suatu peristiwa sejarah. Kerajaan-kerajaan besar di masa lampau memberikan kedudukan yang istimewa kepada para pujangga. Namun tulisan-tulisan para pujangga itu tidak terlepas dari pengaruh kekuasaan, sehingga tulisan itu seringkali tidak netral. Tidak mengherankan, isi tulisannya tidak lebih dari sekedar mengagungkan seorang raja yang sedang berkuasa.
Kitab sebagai karya sastra telah muncul pada masa kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha. Beberapa kitab yang penting di antaranya:
1) Kitab Krisnayana; berasal dari zaman kerajaan Kediri pada masa pemerintahan Raja Jayawarsa.
2) Kitab Bharatayuda; berasal dari zaman kerajaan Kediri pada masa pemerintahan Raja Jayabaya yang ditulis oleh Mpu Sedah dan Mpu Panuluh.
3) Kitab Arjuna Wiwaha; berasal dari zaman kerajaan Kediri pada masa pemerintahan Raja Jayabaya yang ditulis oleh Mpu Kanwa. Dalam kitab ini diceritakan kisah perkawinan Raja Airlangga dengan putri kerajaan Sriwijaya.
4) Kitab Pararaton; berasal dari zaman kerajaan Singasari dan Majapahit, yang ditulis oleh beberapa pujangga dan menceritakan tentang kekuasaan kerajaan Singasari dan Majapahit.
5) Kitab Parahyangan dan Kitab Siksakand; berasal dari kerajaan Pajajaran.
6) Kitab Negara Kertagama; berasal dari kerajaan Majapahit yang ditulis oleh Mpu Prapanca.
7) Kitab Sutasoma; berasal dari zaman kerajaan Majapahit, yang ditulis oleh Mpu Tantular.
8) Kitab Sundayana; berasal dari kerajaan Majapahit yang menceritakan tentang peristiwa Bubat.
9) Kitab Sorandaka dan Kitab Ranggalawe; kedua kitab ini berasal dari kerajaan Majapahit, yang menceritakan tentang pemberontakan yang dilakukan oleh Sora dan Ranggalawe.
10) Kitab Panjiwijayakrama; berasal dari kerajaan Majapahit, yang menceritakan tentang perjalanan Raden Wijaya sampai menjadi raja Majapahit yang pertama.
Selain kitab-kitab tersebut, juga terdapat kitab-kitab suluk (kitab primbon). Kitab jenis ini bercorak magis, berisi ramalan, penentuan hari baik dan buruk, dan pemberian makna terhadap suatu kejadian.
Ada beberapa kitab suluk, yaitu:
1) Suluk Sukarsa; kitab ini menceritakan seseorang (Ki Sukarsa) yang mencari ilmu untuk mendapatkan kesempurnaan.
2) Suluk Wujil; kitab ini berisi wejangan-wejangan Sunan Bonang kepada Wujil (Wujil adalah seorang yang kerdil dan bekas abdi Raja Majapahit).
3) Suluk Malang Sumirang; kitab ini berisi pujian dan mengungkapkan seseorang yang telah mencapai kesempurnaan dan bersatu dengan Tuhan Yang Maha Esa.
Kitab sebagai karya sastra telah muncul pada masa kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha. Beberapa kitab yang penting di antaranya:
1) Kitab Krisnayana; berasal dari zaman kerajaan Kediri pada masa pemerintahan Raja Jayawarsa.
2) Kitab Bharatayuda; berasal dari zaman kerajaan Kediri pada masa pemerintahan Raja Jayabaya yang ditulis oleh Mpu Sedah dan Mpu Panuluh.
3) Kitab Arjuna Wiwaha; berasal dari zaman kerajaan Kediri pada masa pemerintahan Raja Jayabaya yang ditulis oleh Mpu Kanwa. Dalam kitab ini diceritakan kisah perkawinan Raja Airlangga dengan putri kerajaan Sriwijaya.
4) Kitab Pararaton; berasal dari zaman kerajaan Singasari dan Majapahit, yang ditulis oleh beberapa pujangga dan menceritakan tentang kekuasaan kerajaan Singasari dan Majapahit.
5) Kitab Parahyangan dan Kitab Siksakand; berasal dari kerajaan Pajajaran.
6) Kitab Negara Kertagama; berasal dari kerajaan Majapahit yang ditulis oleh Mpu Prapanca.
7) Kitab Sutasoma; berasal dari zaman kerajaan Majapahit, yang ditulis oleh Mpu Tantular.
8) Kitab Sundayana; berasal dari kerajaan Majapahit yang menceritakan tentang peristiwa Bubat.
9) Kitab Sorandaka dan Kitab Ranggalawe; kedua kitab ini berasal dari kerajaan Majapahit, yang menceritakan tentang pemberontakan yang dilakukan oleh Sora dan Ranggalawe.
10) Kitab Panjiwijayakrama; berasal dari kerajaan Majapahit, yang menceritakan tentang perjalanan Raden Wijaya sampai menjadi raja Majapahit yang pertama.
Selain kitab-kitab tersebut, juga terdapat kitab-kitab suluk (kitab primbon). Kitab jenis ini bercorak magis, berisi ramalan, penentuan hari baik dan buruk, dan pemberian makna terhadap suatu kejadian.
Ada beberapa kitab suluk, yaitu:
1) Suluk Sukarsa; kitab ini menceritakan seseorang (Ki Sukarsa) yang mencari ilmu untuk mendapatkan kesempurnaan.
2) Suluk Wujil; kitab ini berisi wejangan-wejangan Sunan Bonang kepada Wujil (Wujil adalah seorang yang kerdil dan bekas abdi Raja Majapahit).
3) Suluk Malang Sumirang; kitab ini berisi pujian dan mengungkapkan seseorang yang telah mencapai kesempurnaan dan bersatu dengan Tuhan Yang Maha Esa.
Jenis manusia purba di Indonesia
Berdasarkan penemuan para ahli dapat diketahui adanya beberapa jenis manusia purba yang berhasil ditemukan di Indonesia, di antaranya adalah:
Meganthropus Paleojavanicus
Meganthropus berarti manusia besar. Fosil ini ditemukan di Sangiran oleh von Koenigswald pada tahun 1941 berupa sebagian rahang bawah yang jauh lebih besar dan kuat dari Pithecanthropus erectus. Para ahli memperkirakan bahwa fosil ini adalah makhluk tertua yang pernah hidup di Pulau Jawa.
Pithecanthropus
Pithecanthropus berarti manusia kera. Fosil jenis pithecanthropus ini ditemukan di Trinil Desa Ngawi, Perning daerah Mojokerto, Sangiran, Kedung Brubus, Sambung Macan, dan Ngandong.
Eugene Dubois menyimpulkan bahwa fosil ini memiliki volume otak 900 cc yang lebih kecil dibandingkan dengan volume otak manusia yang di atas 1000 cc dan volume otak kera yang tertinggi hanya 600 cc. Volume otak dari fosil itu berada di antara volume otak kera dan manusia. Oleh karena itulah, fosil ini disebut pithecanthropus yang berarti manusia kera.
a) Pithecanthropus erectus
Pithecanthropus erectus berarti manusia kera yang sudah dapat berjalan tegak. Penelitian itu didasarkan pada penemuan tulang rahang, dua geraham, bagian atas tengkorak, dan tulang paha kiri. Volume otaknya berada di antara volume otak kera dan manusia. Tulang paha menunjukkan bahwa makhluk itu sudah berjalan tegak. Itulah sebabnya, Eugene Dubois menyimpulkan bahwa hasil temuannya itu disebut pithecanthropus erectus yang berarti manusia kera yang sudah dapat berjalan tegak.
b) Pithecanthropus mojokertensis
Pithecanthropus mojokertensis berarti manusia kera dari Mojokerto. Fosil ini ditemukan dan diteliti oleh von Koenigswald antara tahun 1936-1941, di daerah Perning, Mojokerto. Hasil penemuannya berupa tengkorak anak-anak. Von Koenigswald memperkirakan tengkorak anak yang ditemukan itu adalah fosil yang berasal dari anak-anaknya pithecanthropus.
c) Pithecanthropus soloensis
Pithecanthropus soloensis berarti manusia kera dari Solo. Fosil ini ditemukan di daerah Ngandong, lembah sungai Bengawan Solo antara tahun 1931-1934. Hasil penemuannya berupa 11 buah fosil tengkorak, tulang rahang, dan gigi. Fosil ini diteliti oleh von Koenigswald dan Weidenrich. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa makhluk ini lebih tinggi tingkatannya dari makhluk pithecanthropus erectus.
Meganthropus Paleojavanicus
Meganthropus berarti manusia besar. Fosil ini ditemukan di Sangiran oleh von Koenigswald pada tahun 1941 berupa sebagian rahang bawah yang jauh lebih besar dan kuat dari Pithecanthropus erectus. Para ahli memperkirakan bahwa fosil ini adalah makhluk tertua yang pernah hidup di Pulau Jawa.
Pithecanthropus
Pithecanthropus berarti manusia kera. Fosil jenis pithecanthropus ini ditemukan di Trinil Desa Ngawi, Perning daerah Mojokerto, Sangiran, Kedung Brubus, Sambung Macan, dan Ngandong.
Eugene Dubois menyimpulkan bahwa fosil ini memiliki volume otak 900 cc yang lebih kecil dibandingkan dengan volume otak manusia yang di atas 1000 cc dan volume otak kera yang tertinggi hanya 600 cc. Volume otak dari fosil itu berada di antara volume otak kera dan manusia. Oleh karena itulah, fosil ini disebut pithecanthropus yang berarti manusia kera.
a) Pithecanthropus erectus
Pithecanthropus erectus berarti manusia kera yang sudah dapat berjalan tegak. Penelitian itu didasarkan pada penemuan tulang rahang, dua geraham, bagian atas tengkorak, dan tulang paha kiri. Volume otaknya berada di antara volume otak kera dan manusia. Tulang paha menunjukkan bahwa makhluk itu sudah berjalan tegak. Itulah sebabnya, Eugene Dubois menyimpulkan bahwa hasil temuannya itu disebut pithecanthropus erectus yang berarti manusia kera yang sudah dapat berjalan tegak.
b) Pithecanthropus mojokertensis
Pithecanthropus mojokertensis berarti manusia kera dari Mojokerto. Fosil ini ditemukan dan diteliti oleh von Koenigswald antara tahun 1936-1941, di daerah Perning, Mojokerto. Hasil penemuannya berupa tengkorak anak-anak. Von Koenigswald memperkirakan tengkorak anak yang ditemukan itu adalah fosil yang berasal dari anak-anaknya pithecanthropus.
c) Pithecanthropus soloensis
Pithecanthropus soloensis berarti manusia kera dari Solo. Fosil ini ditemukan di daerah Ngandong, lembah sungai Bengawan Solo antara tahun 1931-1934. Hasil penemuannya berupa 11 buah fosil tengkorak, tulang rahang, dan gigi. Fosil ini diteliti oleh von Koenigswald dan Weidenrich. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa makhluk ini lebih tinggi tingkatannya dari makhluk pithecanthropus erectus.
Sabtu, 18 Mei 2013
Pengertian animisme
Setelah kepercayaan masyarakat terhadap roh nenek moyang berkembang, kemudian muncul kepercayaan yang bersifat animisme. Animisme merupakan suatu kepercayaan masyarakat terhadap suatu benda yang dianggap memiliki roh atau jiwa.
Awal munculnya kepercayaan yang bersifat animisme ini didasari oleh berbagai pengalaman dari masyarakat yang bersangkutan. Misalnya, pada daerah di sekitar tempat tinggalnya terdapat sebuah batu besar. Masyarakat yang melewati batu besar itu baik siang maupun malam mendengar keganjilan-keganjilan seperti suara minta tolong, memanggil-manggil namanya, dan lain sebagainya. Tetapi begitu dilihat, mereka tidak menemukan adanya orang yang dimaksudkan. Peristiwa ini kemudian terus berkembang hingga masyarakat menjadi percaya bahwa batu yang dimaksudkan itu mempunyai roh atau jiwa.
Di samping itu, muncul suatu kepercayaan di tengah-tengah masyarakat terhadap benda-benda pusaka yang dipandang memiliki roh atau jiwa. Misalnya sebilah keris, tombak atau benda-benda pusaka lainnya. Masyarakat banyak yang percaya bahwa sebilah keris pusaka memiliki roh atau jiwa, sehingga benda-benda seperti itu dianggap dapat memberi petunjuk tentang berbagai hal yang berkembang dalam masyarakat.
Kepercayaan seperti itu masih terus berkembang dalam kehidupan masyarakat hingga sekarang ini. Bahkan bukan hanya pada daerah-daerah pedesaan, melainkan juga berkembang dan dipercaya oleh masyarakat di berbagai kota.
Selain benda-benda tersebut di atas, terdapat banyak hal yang dipercaya oleh masyarakat yang dipandang memiliki roh atau jiwa, antara lain bangunan gedung tua, bangunan candi, pohon besar, dan lain sebagainya.
Awal munculnya kepercayaan yang bersifat animisme ini didasari oleh berbagai pengalaman dari masyarakat yang bersangkutan. Misalnya, pada daerah di sekitar tempat tinggalnya terdapat sebuah batu besar. Masyarakat yang melewati batu besar itu baik siang maupun malam mendengar keganjilan-keganjilan seperti suara minta tolong, memanggil-manggil namanya, dan lain sebagainya. Tetapi begitu dilihat, mereka tidak menemukan adanya orang yang dimaksudkan. Peristiwa ini kemudian terus berkembang hingga masyarakat menjadi percaya bahwa batu yang dimaksudkan itu mempunyai roh atau jiwa.
Di samping itu, muncul suatu kepercayaan di tengah-tengah masyarakat terhadap benda-benda pusaka yang dipandang memiliki roh atau jiwa. Misalnya sebilah keris, tombak atau benda-benda pusaka lainnya. Masyarakat banyak yang percaya bahwa sebilah keris pusaka memiliki roh atau jiwa, sehingga benda-benda seperti itu dianggap dapat memberi petunjuk tentang berbagai hal yang berkembang dalam masyarakat.
Kepercayaan seperti itu masih terus berkembang dalam kehidupan masyarakat hingga sekarang ini. Bahkan bukan hanya pada daerah-daerah pedesaan, melainkan juga berkembang dan dipercaya oleh masyarakat di berbagai kota.
Selain benda-benda tersebut di atas, terdapat banyak hal yang dipercaya oleh masyarakat yang dipandang memiliki roh atau jiwa, antara lain bangunan gedung tua, bangunan candi, pohon besar, dan lain sebagainya.
Langganan:
Entri (Atom)