Rabu, 19 November 2014

Usaha Mengurangi Kerusakan Tanah Akibat Erosi

Kerusakan tanah akibat erosi dapat dikurangi dengan upaya konservasi tanah. Konservasi tanah adalah pemeliharaan dan perlindungan terhadap tanah secara teratur guna mengurangi dan mencegah kerusakan tanah dengan cara pelestarian. Strategi dalam konservasi tanah harus mengarah pada ketentuan berikut ini.
a. Melindungi tanah dari hantaman air hujan dengan penutup permukaan tanah, sehingga mencegah laju erosi.
b. Mengurangi aliran permukaan dengan meningkatkan kapasitas infiltrasi.
c. Meningkatkan stabilitas agregat/komponen tanah.
d. Mengurangi kecepatan aliran permukaan dengan meningkatkan kekasaran permukaan lahan.

Metode konservasi tanah dilakukan dengan tiga cara, yaitu secara agronomis, mekanis, dan kimiawi.
a. Konservasi tanah secara agronomis (vegetatif)
Konservasi tanah secara agronomis (vegetatif) adalah metode pengawetan tanah dengan cara menanam vegetasi (tumbuhan) pada lahan yang dilestarikan. Usaha-usaha yang dilakukan untuk pengawetan tanah dan air menggunakan metode vegetatif meliputi hal-hal berikut ini.
1) Penanaman dalam strip
Penanaman dalam strip (strip cropping), adalah suatu sistem bercocok tanam, yang dilakukan dengan menanam tanaman dalam strip yang berselang-seling pada sebidang tanah. Dalam sistem ini, tanaman ditanam secara bersamaan. Pola penanamannya disusun memotong lereng atau searah garis kontur. Jenis tanaman yang digunakan untuk penanaman dalam strip adalah tanaman pangan atau tanaman semusim. Penanaman kedua jenis tanaman tersebut diselingi tanaman penutup tanah.
Dalam sistem strip terdapat istilah contour strip cropping. Artinya, penanaman tanaman yang dilakukan sejajar dengan garis kontur.
2) Penggunaan sisa-sisa tanaman
Penggunaan sisa-sisa tanaman dapat berbentuk mulsa dan pupuk hijau. Apabila menggunakan mulsa, sisa-sisa tanaman yang telah dipotong disebarkan secara merata di permukaan tanah. Namun, apabila menggunakan pupuk hijau, sisa-sisa tanaman yang masih segar ditimbun di dalam tanah.
3) Strip penyangga riparian
Strip penyangga riparian diterapkan dengan menanam pepohonan, rerumputan, dan semak-semak di pinggir sungai. Strip penyangga riparian disebut pula dengan istilah jalur hijau sungai. Fungsi strip penyangga riparian untuk menjaga kelestarian fungsi sungai. Fungsi lainnya adalah menjaga kestabilan tebing sungai.

b. Konservasi tanah secara mekanis
Konservasi secara mekanis adalah metode mengawetkan tanah melalui teknik-teknik pengolahan tanah yang dapat memperlambat aliran permukaan, sehingga kekuatannya tidak merusak tanah. Bentuk-bentuk konservasi secara mekanik, antara lain pengolahan tanah menurut garis kontur, pembuatan tanggul atau guludan, pembuatan parit pengelak, dan pembuatan teras (terasering).
1) Pengolahan tanah menurut kontur (contour cultivation)
Pengolahan tanah menurut kontur diterapkan pada daerah lereng. Dalam sistem ini, pembajakan dilakukan menurut kontur atau memotong lereng. Pola pembajakan tersebut membentuk jalur-jalur tumpukan tanah. Selain itu, terbentuk alur di antara tumpukan tanah.
Dalam praktiknya, pengolahan tanah sesuai kontur dapat dilakukan bersamaan penanaman sesuai kontur. Pelaksanaan keduanya yang bersamaan dapat meningkatkan keefektifan penerapan pengolahan tanah sesuai kontur dalam mengurangi erosi.
2) Guludan
Guludan adalah tumpukan tanah yang dibuat memanjang sesuai arah garis kontur atau memotong lereng. Guludan dapat dibuat dengan ketinggian 30 cm dengan lebar sekitar 40 cm. Jarak antarguludan bergantung pada kecuraman lereng, kepekaan erosi, dan erosivitas hujan. Makin curam lereng, makin pendek jarak guludan. Makin peka tanah terhadap erosi, makin pendek jarak guludan. Begitu pula makin tinggi erosivitas hujan, makin pendek pula jarak guludan.
3) Parit pengelak
Parit pengelak adalah cara konservasi tanah yang dilakukan dengan membuat saluran yang memotong lereng. Saluran tersebut dibuat dengan kemiringan relatif kecil.
Parit pengelak biasanya dibuat pada tanah yang berlereng panjang. Fungsi parit pengelak untuk menampung dan menyalurkan aliran permukaan dari lereng dengan kecepatan rendah. Air permukaan kemudian dialirkan ke saluran pembuangan. Saluran pembuangan ini ditanami rerumputan.
4) Pembuatan teras
Ada dua tipe utama teras, yaitu teras berdasar lebar dan teras tangga (bangku).
a) Teras berdasar lebar, adalah suatu saluran yang memiliki dasar lebar. Teras ini sering digunakan pada daerah-daerah yang reliefnya bergelombang dengan kemiringan 2% sampai 15%. Lebar teras berdasar lebar dapat dibuat dengan lebar 6 sampai 15 meter.
b) Teras tangga (teras bangku), adalah teras yang dibuat dengan cara menggali tanah pada lereng dan meratakan tanah di bagian bawah, sehingga membentuk tangga. Teras ini biasanya dibuat pada daerah dengan kemiringan lereng 2% sampai 30% atau lebih besar.

c. Konservasi tanah secara kimiawi
Konservasi secara kimiawi, adalah metode pengawetan tanah dengan menggunakan bahan kimia untuk memperbaiki struktur tanah menjadi mantap dan tidak mudah hancur oleh pukulan air hujan. Bahan kimia yang sering digunakan adalah soil conditioner atau pemantap struktur tanah. Sesuai dengan namanya, soil conditioner digunakan untuk membentuk struktur tanah agar stabil. Senyawa yang terbentuk menyebabkan tanah menjadi lebih stabil.

Pengertian Lahan Kritis dan Usaha Memperbaikinya

Lahan kritis merupakan kondisi lahan kebalikan dari lahan potensial. Lahan kritis adalah lahan yang tidak produktif. Lahan kritis umumnya bersifat tandus, gundul, tidak dapat digunakan untuk usaha pertanian, karena tingkat kesuburannya sangat rendah. Produktivitas lahan ini sulit ditingkatkan, meskipun dikelola dengan berbagai usaha. Keadaan ini mengakibatkan hasil produksi dari pengelolaan lahan kritis jumlahnya jauh lebih sedikit daripada biaya yang dikeluarkan untuk pengelolaannya.
Lahan kritis terjadi dipengaruhi oleh beberapa faktor. Berikut ini faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya lahan kritis.
a. Kekeringan yang berkepanjangan, sehingga menyebabkan tanah menjadi gersang dan kehilangan kesuburannya.
b. Adanya genangan air dalam jangka waktu lama. Keadaan ini sering terlihat di daerah pesisir pantai yang berupa rawa-rawa.
c. Erosi tanah dan longsoran yang biasanya terjadi di daerah dataran tinggi, pegunungan, dan daerah berlereng curam.
d. Pengolahan lahan yang kurang memperhatikan aspek-aspek kelestarian lingkungan.
e. Masuknya bahan atau zat-zat kimia yang sulit terurai di dalam tanah, sehingga mencemari tanah. Bahan tersebut, misalnya plastik dan karet.
Lahan kritis harus segera mendapatkan penanganan yang benar dan tepat. Jika dibiarkan dan tidak ada perlakuan perbaikan, keadaan lahan kritis akan makin parah dan lama-kelamaan dapat membahayakan kehidupan manusia. Bentuk usaha yang telah dilakukan oleh pemerintah untuk mengatasi lahan kritis, antara lain melakukan rehabilitasi dan konservasi lahan-lahan kritis di Indonesia. Penanggulangan lahan kritis dilaksanakan dengan upaya-upaya berikut ini.
a. Lahan tanah dimanfaatkan seoptimal mungkin bagi pertanian, perkebunan, peternakan, dan usaha lainnya.
b. Laju erosi tanah perlu dicegah dengan cara pembuatan terasering di lereng-lereng perbukitan.
c. Usaha perluasan penghijauan tanah milik dan reboisasi lahan hutan.
d. Mencegah penebangan kawasan hutan yang mengancam kelestarian hutan dan lingkungan sekitar.
e. Pengembangan keanekaragaman hayati.
f. Perlu tindakan tegas bagi siapa saja yang merusak lahan yang mengarah pada terjadinya lahan kritis.
g. Menghilangkan unsur-unsur yang dapat mengganggu kesuburan lahan pertanian, misalnya plastik dengan proses daur ulang sangat diharapkan.
h. Pemupukan dengan pupuk organik, yaitu pupuk kandang atau pupuk hijau secara tepat dan terus-menerus.
i. Lebih memperdayakan penggunaan tumbuhan azzola untuk menggemburkan tanah sawah.
j. Melakukan reklamasi lahan bekas penambangan, dengan menanami lahan tersebut dengan pepohonan yang sesuai di daerah setempat.

Selasa, 18 November 2014

Tekanan Udara

Tiap satuan volume zat yang mempunyai massa, zat tersebut mempunyai tekanan. Udara walaupun berbentuk gas juga mempunyai tekanan. Dilihat dari segi kepadatannya, udara memang tidak sepadat zat cair dan zat padat, sehingga nilai tekanan udara lebih rendah dari zat cair dan zat padat.
Tekanan udara menunjukkan tenaga yang bekerja untuk menggerakkan massa udara dalam tiap satuan luas tertentu. Satuan ukuran tekanan udara adalah milibar (mb). Nilai 1 mb = 1 atmosfer. Garis pada peta yang menghubungkan tempat-tempat yang sama tekanan udaranya disebut isobar.
Besar kecilnya tekanan udara dapat dinyatakan dengan suatu alat yang disebut barometer. Barometer umumnya digunakan dalam peramalan cuaca. Tekanan udara yang tinggi menandakan cuaca yang bersahabat. Tekanan udara rendah menandakan kemungkinan terjadi badai.
Barometer dapat juga digunakan untuk mengukur tinggi suatu tempat atau bangunan dari permukaan air laut. Tiap kenaikan 10 meter, permukaan air raksa dalam tabung barometer turun rata-rata 1 mm.
Ada dua jenis barometer yang dapat digunakan untuk pengukuran tekanan atau ketinggian, yaitu barometer air raksa dan barometer aneroid. Barometer air raksa merupakan hasil percobaan Torrecelli pada tahun 1643. Barometer jenis ini memiliki kelemahan, yaitu kurang praktis, sehingga sulit dibawa. Sebagai gantinya dipakai barometer aneroid. Barometer aneroid dilengkapi altimeter yang berfungsi sebagai pengukur ketinggian.
Ada dua faktor yang memengaruhi tekanan udara, yaitu ketinggian tempat dan suhu udara. Makin tinggi suatu tempat, lapisan udara makin tipis dan makin renggang. Hal ini mengakibatkan makin berkurangnya udara yang menekan, sehingga tekanan udara makin rendah. Adapun makin tinggi suhu udara, volume molekul udara makin berkembang. Akibatnya, tekanan udara makin rendah. Sebaliknya, makin rendah suhu udara, tekanan udara makin tinggi.

Jumat, 14 November 2014

Teori Permintaan Uang Keynesian

Mengapa kamu perlu memegang uang tunai dalam jumlah tertentu? Mengapa kamu perlu uang tunai? Alasan orang memegang uang tunai menurut John Maynard Keynes adalah karena uang diperlukan sebagai alat pembayaran (transaction motive), untuk keperluan berjaga-jaga (precautionary motive), dan untuk keperluan spekulasi (speculation motive).
1) Motif Transaksi (Transaction Motive)
Dalam teori Keynes, permintaan uang untuk transaksi sama dengan dengan permintaan uang dalam teori klasik. Masyarakat memegang uang tunai dengan tujuan mempermudah kegiatan transaksi sehari-hari. Permintaan uang untuk keperluan transaksi memiliki hubungan positif dengan pendapatan. Jika pendapatan naik, maka permintaan uang untuk keperluan transaksi juga meningkat.
2) Motif Berjaga-jaga (Precautionary Motive)
Permintaan terhadap uang bisa saja karena orang ingin berjaga-jaga terhadap suatu peristiwa yang tidak dikehendaki seperti sakit, kecelakaan, kebanjiran, dan kebakaran. Permintaan uang untuk berjaga-jaga juga memiliki hubungan positif dengan pendapatan.
3) Motif spekulasi (Speculation Motive)
Motif spekulasi adalah motivasi memegang uang tunai untuk memperoleh keuntungan. Hal ini merupakan konsekuensi dari salah satu fungsi uang, yaitu sebagai media penyimpan nilai. Keuntungan dari memegang uang tunai adalah likuiditasnya yang sempurna. Artinya, kapanpun dibutuhkan, pada saat itu juga dapat digunakan. Namun demikian terdapat biaya hilangnya kesempatan memperoleh bunga dalam memegang uang tunai seandainya uang itu disimpan dalam bentuk obligasi. Jadi, permintaan uang untuk keperluan spekulasi berhubungan dengan tingkat bunga yang berlaku. Jika tingkat bunga rendah permintaan uang meningkat, sedangkan pada tingkat bunga tinggi permintaan uang turun.

Rabu, 12 November 2014

Sumber Data Kependudukan

Jumlah penduduk di suatu tempat atau negara dapat diketahui melalui sensus penduduk, registrasi penduduk, dan survei penduduk.
a. Sensus Penduduk
Sensus penduduk adalah keseluruhan proses pengumpulan (collecting), menghimpun, dan menyusun (compiling) serta menerbitkan data-data demografi, ekonomi, dan sosial yang menyangkut semua orang pada waktu tertentu di suatu negara atau suatu wilayah tertentu (UN Statistical Papers, Series M No. 7, 1958).
Dari data sensus dapat diketahui berapa jumlah dan ciri-ciri penduduk pada suatu negara atau suatu wilayah tertentu. Berdasarkan pelaksanaannya, sensus dibedakan menjadi dua macam.
1) Sensus de Jure
Sensus de Jure adalah pencacahan penduduk yang hanya dikenakan kepada mereka yang betul-betul bertempat tinggal di wilayah atau negara tersebut pada saat sensus penduduk dilakukan. Sensus jenis ini tetap melakukan pencacahan meskipun orang yang dicacah sedang tidak ada di tempat.
2) Sensus de Facto
Sensus de facto adalah pencacahan penduduk yang dilakukan kepada setiap orang yang berada di wilayah atau negara tersebut pada waktu dilakukan sensus penduduk.
Sensus penduduk berguna untuk mengetahui beberapa hal berikut.
1) Mengetahui jumlah penduduk.
2) Mengetahui pertumbuhan penduduk.
3) Mengetahui kepadatan penduduk.
4) Mengetahui komposisi penduduk.
5) Digunakan dalam perencanaan pembangunan.

b. Registrasi Penduduk
Registrasi penduduk adalah kumpulan keterangan mengenai terjadinya peristiwa kelahiran, kematian, dan perpindahan penduduk yang terjadi di tempat penduduk tersebut.

c. Survei Penduduk
Survei memiliki pengertian yang hampir sama dengan sensus, perbedaannya terletak pada jumlah penduduk yang dicacah. Pada sensus, semua penduduk dilakukan pencacahan sedangkan pada survei, penduduk yang dicacah tidak seluruhnya namun dicacah beberapa saja sebagai sampel. Adapun berdasarkan sifatnya, sensus bersifat umum sedangkan survei bersifat khusus.
Jumlah kelahiran dan kematian sangat menentukan pertumbuhan penduduk di Indonesia. Oleh sebab itu, kita perlu mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi kelahiran dan kematian.

Skala Kekuatan Gempa Bumi

Skala kekuatan gempa bumi diukur berdasarkan kuat atau lemahnya getaran. Kuat atau lemahnya getaran dapat dilihat dari fenomena tingkat kerusakan lingkungan di sekitar sumber gempa bumi.
Kekuatan gempa bumi umumnya dinyatakan dengan Skala Richter. Skala Richter didasarkan pada alat pengukur gempa bumi, yakni Seismograf Wood Anderson. Pengukur gempa bumi ini dengan cepat dapat mengidentifikasi berapa kekuatan getaran gempa serta jarak antara lokasi pengamatan dengan sumber gempa bumi.
Skala kekuatan gempa bumi sesungguhnya tidak hanya Skala Richter saja, tetapi masih ada skala kekuatan gempa bumi lainnya, yakni Skala Mercalli dan Skala Omori. Perbedaan dari beberapa skala kekuatan gempa tersebut misalnya, untuk Skala Richter secara umum kekuatan gempa diukur berdasarkan getaran magnitudo, sedangkan untuk Skala Mercalli dan Skala Omori keduanya hampir mirip, yakni berdasarkan tahapan-tahapan yang berkaitan dengan intensitas gempa.

a. Skala kekuatan gempa bumi menurut C.F. Richter
C. F. Richter adalah seorang ahli seismologi berkebangsaan Amerika Serikat, yang pada tahun 1935, menyusun skala gempa bumi berdasarkan skala magnitudo (ukuran besar atau kecilnya kekuatan gempa). Richter menggunakan klasifikasi angka 0 sampai 8. Semakin besar angka semakin besar magnitudonya.

b. Skala kekuatan gempa bumi menurut Mercalli
Mercalli pada tahun 1931 menyusun skala gempa bumi berdasarkan skala intensitas gempa. Intensitas gempa di suatu tempat adalah kekuatan gempa yang diestimasikan berdasarkan efek geologis dan efeknya terhadap bangunan-bangunan dan manusia. Skala Mercalli disusun dengan menggunakan angka romawi I sampai XII.

c. Skala kekuatan gempa bumi menurut Omori
Skala gempa menurut Omori secara umum hampir mirip dengan skala kekuatan gempa yang ditulis oleh Mercalli. Di Indonesia, terdapat beberapa kawasan yang tidak stabil dan secara berkala mengalami perubahan, baik yang disebabkan oleh aktivitas tektonisme maupun vulkanisme.
Jika kita perhatikan dengan cermat tentang kondisi gunung api di Indonesia, pada umumnya gunung api di wilayah negara kita termasuk pegunungan api muda. Gunung api di Indonesia secara umum posisinya berderet yang membentuk jalur gunung api dan merupakan tempat pertemuan antara dua rangkaian pegunungan dunia, yaitu Sirkum Mediterania (Alpen-Banda) dan deretan Sirkum Pasifik (lingkar Pasifik).

Pengertian Urbanisasi

Urbanisasi adalah perpindahan penduduk dari desa ke kota atau dari kota kecil ke kota besar. Orang yang melakukan urbanisasi disebut urban. Contohnya, orang-orang dari daerah pedesaan berpindah ke kota-kota besar, seperti Jakarta, Semarang, Bandung, Surabaya, dan Yogyakarta.
Faktor-faktor penyebab perpindahan penduduk dari desa ke kota ada dua, yaitu faktor pendorong dari desa (daya tolak desa) dan faktor penarik dari kota (daya tarik kota).
a) Faktor Pendorong dari Desa
Urbanisasi masyarakat desa ke kota dapat terjadi karena faktor pendorong dari desa berikut ini.
(1) Semakin sempitnya pemilikan tanah perorangan di desa sebagai akibat dari pertambahan penduduk yang cepat.
(2) Jumlah dan jenis lapangan pekerjaan di desa masih terbatas.
(3) Upah buruh dan tenaga kerja rendah.
(4) Fasilitas kurang memadai, seperti fasilitas pendidikan, kesehatan, penerangan, hiburan, dan transportasi.

b) Faktor Penarik dari Kota
Masyarakat desa berurbanisasi ke kota karena faktor penarik dari kota berikut ini.
(1) Jumlah dan jenis lapangan kerja di kota lebih banyak, seperti di sektor industri, perdagangan, dan jasa.
(2) Upah buruh dan tenaga kerja yang lebih tinggi.
(3) Tersedianya berbagai jenis fasilitas, seperti fasilitas pendidikan, kesehatan, penerangan, hiburan, dan transportasi.
(4) Kota sebagai pusat pemerintahan, perdagangan, industri, budaya, ilmu pengetahuan, dan teknologi.
Urbanisasi menimbulkan berbagai akibat, baik bagi daerah yang ditinggalkan, yaitu pedesaan maupun bagi daerah yang dituju, yaitu kota.

Akibat yang ditimbulkan oleh urbanisasi bisa bersifat negatif maupun positif.
a) Akibat Negatif Urbanisasi Bagi Desa
Urbanisasi memiliki akibat negatif bagi desa sebagai berikut.
(1) Kekurangan tenaga muda di desa karena banyak yang pindah ke kota.
(2) Pembangunan di desa menjadi terhambat karena tenaga kerja terdidik sebagai penggerak pembangunan di desa banyak yang mencari kerja ke kota-kota besar.
(3) Produksi pertanian menurun karena kurangnya tenaga pengelola.

b) Akibat Negatif Urbanisasi Bagi Kota
Kota sebagai tujuan urbanisasi turut terkena dampak negatif di antaranya berikut ini.
(1) Di bidang kependudukan, kepadatan penduduk di kota yang meningkat mengakibatkan lahan di kota semakin sempit.
(2) Di bidang ekonomi, akibat rendahnya keterampilan yang dimiliki para urban membuat jumlah pekerja kasar di kota meningkat, jumlah pengangguran meningkat, kehidupan menjadi semakin sulit, dan kesempatan kerja semakin sempit.
(3) Di bidang sosial, perumahan semakin sulit diperoleh sehingga muncul gubuk-gubuk liar dan permukiman di daerah bantaran sungai yang berakibat timbulnya daerah permukiman kumuh.
(4) Di bidang keamanan, semakin tinggi angka pengangguran, maka meningkat pula tindak kejahatan. Seperti penjambretan, penodongan, perampokan, dan penipuan.
(5) Di bidang transportasi, sering terjadi kemacetan lalu lintas akibat tingginya pemilikan kendaran pribadi terutama di jalan-jalan besar. Selain itu, angkutan umum menjadi semakin padat karena armada yang terbatas namun penumpang semakin banyak.
(6) Di bidang lingkungan hidup, kepadatan penduduk berakibat penurunan kualitas lingkungan hidup. Seperti terancamnya kebutuhan akan air bersih, pencemaran udara yang disebabkan oleh banyaknya kendaraan bermotor, dan pencemaran suara.

c) Akibat Positif Urbanisasi Bagi Desa
Adapun akibat positif urbanisasi bagi desa di antaranya berikut ini.
(1) Mengurangi jumlah pengangguran di desa.
(2) Pembangunan di desa menjadi berkembang sebagai akibat pengaruh dinamisasi dari kaum urban.
(3) Meningkatnya taraf hidup penduduk desa karena adanya pengiriman sebagian pendapatan dari para urban kepada saudaranya yang ada di desa.

d) Akibat Positif Urbanisasi Bagi Kota
Sedangkan akibat positif urbanisasi bagi kota yaitu sebagai berikut.
(1) Banyaknya tenaga kerja dari desa yang akan memperlancar pembangunan kota.
(2) Banyaknya tenaga kerja dengan upah yang relatif murah.

Berikut ini usaha pemerintah untuk mengurangi terjadinya peningkatan urbanisasasi di berbagai kota.
a) Desentralisasi, yaitu pembangunan yang tidak hanya memusat di kota namun menyebar ke daerah-daerah. Dengan dikembangkannya pembangunan daerah, maka penduduk tidak perlu lagi pergi ke kota. Pembangunan Indonesia berpusat di Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, dan Medan. Masing-masing kota tersebut mengembangkan daerah sekitarnya, seperti kota-kota satelit yang telah dilengkapi dengan infrastruktur. Sebagai contoh pengembangan kota-kota Tangerang, Bekasi, Bogor, Serpong, dan Depok yang berada di sekitar Jakarta telah berhasil menurunkan urbanisasi bagi Jakarta. Hal yang sama terjadi terhadap kota Surabaya dengan pengembangan kota Gresik, Bangkalan, Mojokerto, Sidoarjo, dan Kertosono, yang terletak di sekitar kota Surabaya.
b) Modernisasi desa, yaitu pengembangan program pembangunan daerah dengan berbagai kegiatan, seperti koran dan listrik masuk desa sehingga akan meningkatkan taraf kehidupan penduduk desa.
c) Meningkatkan penyuluhan program Keluarga Berencana (KB) untuk mengendalikan pertumbuhan penduduk di pedesaan.
d) Meningkatkan sarana dan prasarana transportasi dan komunikasi antardaerah.
e) Meningkatkan kegiatan sentra-sentra industri kecil maupun sedang di pedesaan untuk lebih banyak menyerap tenaga kerja.
f) Meningkatkan sistem keamanan lingkungan di pedesaan.
g) Pemberlakuan peraturan yang ketat untuk perpindahan penduduk dari desa ke kota.

Untuk mengatasi akibat dari adanya urbanisasi, pemerintah mengusahakan hal-hal berikut.
a) Penertiban daerah pemukiman terutama gubuk-gubuk liar di daerah aliran sungai.
b) Penertiban pembuangan sampah di kota-kota besar dengan penyediaan area tempat pembuangan akhir.
c) Peningkatan sistem keamanan dan kewaspadaan masyarakat secara sistematik maupun swadaya untuk menanggulangi tindak kriminal di daerah perkotaan.
d) Penambahan jumlah tempat permukiman dengan pendirian rumah susun dan rumah sangat sederhana (RSS) yang harganya dapat dijangkau oleh masyarakat.
e) Meningkatkan jumlah sarana dan prasarana transportasi seperti jalan tol, jalan antarkota, dan jalan antarpropinsi disertai dengan penambahan armada dan sebagainya.