Senin, 22 September 2014

Pengertian Nilai Sosial

Nilai (value) adalah prinsip, standar, atau kualitas yang dianggap berharga atau diinginkan oleh orang yang memegangnya. Nilai merupakan kumpulan sikap dan perasaan yang diwujudkan melalui perilaku sosial orang yang memiliki nilai sosial tersebut. Sedangkan nilai sosial adalah kualitas perilaku, pikiran, dan karakter yang dianggap masyarakat baik dan benar, hasilnya diinginkan, dan layak ditiru oleh orang lain. Nilai sosial merupakan sikap dan perasaan yang diterima secara luas oleh masyarakat dan merupakan dasar untuk merumuskan apa yang benar dan apa yang penting. Berikut adalah definisi nilai menurut beberapa sosiolog, yaitu:
Robert M.Z. Lawang. Nilai adalah gambaran mengenai apa yang diinginkan, yang pantas, yang berharga, dan yang memengaruhi perilaku orang yang memiliki nilai itu.
Young. Nilai sosial adalah asumsi yang abstrak dan sering tidak disadari tentang apa yang baik dan benar, dan apa yang dianggap penting dalam masyarakat.
Green. Nilai sosial adalah kesadaran yang secara efektif berlangsung disertai emosi terhadap objek, ide, dan individu.
Wood. Nilai sosial merupakan petunjuk-petunjuk umum yang telah berlangsung lama, yang mengarahkan tingkah laku dan kepuasaan dalam kehidupan sehari-hari. Secara umum, nilai berkaitan dengan kemerdekaan seseorang dalam bertindak. Nilai membantu individu untuk mengarahkan tindak-tanduknya berdasarkan pilihan-pilihan yang ia buat secara sadar. Nilai menjadi dasar pertimbangan seseorang dalam memilih dan menentukan sikap serta mengambil keputusan atas suatu hal. Jadi, nilai menentukan peringkat prioritas dari berbagai alternatif tingkah laku yang mungkin dilakukan oleh seseorang.
Setiap individu meyakini nilai-nilai tersendiri yang turut memberikan pengaruh pada nilai yang dimiliki oleh masyarakat. Sebuah nilai dianggap konsisten apabila tidak bertentangan dengan nilai-nilai lain dalam masyarakat dan bersifat abstrak. Abstrak di sini maksudnya bersifat umum, memiliki ruang lingkup yang luas, dan umumnya sulit diterangkan secara rasional dan nyata. Ada beberapa faktor yang memengaruhi perubahan nilai, antara lain:
a. evolusi dari suatu kepercayaan dalam beragama,
b. perubahan dalam nilai moral,
c. pengaruh media massa,
d. perubahan dalam ekonomi,
e. inovasi dalam teknologi.

Nilai Sosial dan Norma Sosial

• Nilai adalah perasaan yang diinginkan atau tidak diinginkan yang memengaruhi perilaku sosial orang yang memiliki nilai tersebut.
• Menurut C. Kluckhohn, nilai budaya semua kebudayaan mencakup:
a. Nilai hakikat hidup.
b. Nilai hakikat karya manusia.
c. Nilai hakikat kedudukan manusia dalam ruang dan waktu.
d. Nilai hakikat hubungan manusia dengan alam sekitar.
e. Nilai hakikat hubungan manusia dengan sesamanya.
• Peran nilai sosial di masyarakat adalah:
a. Menentukan harga kelas sosial seseorang dalam struktur stratifikasi sosial.
b. Mengarahkan masyarakat untuk berpikir dan bertingkah laku sesuai dengan nilai-nilai yang ada di dalam masyarakat.
c. Memotivasi atau memberi semangat pada manusia untuk mewujudkan dirinya dalam perilaku yang sesuai dengan yang diharapkan oleh peran-perannya dalam mencapai tujuan.
d. Alat solidaritas atau pendorong masyarakat untuk saling bekerja sama dan mencapai sesuatu yang tidak dapat dicapai sendiri.
e. Pengawas, pembatas, pendorong, dan penekan individu untuk selalu berbuat baik.

Norma Sosial
• Norma adalah pedoman perilaku untuk melangsungkan hubungan kehidupan bersama-sama yang berisi perintah, larangan, dan anjuran guna menciptakan ketertiban, keteraturan, dan kedamaian dalam masyarakat.
• Pada mulanya, norma sosial dibuat atau disusun secara tidak sengaja. Namun, kemudian norma sengaja dibuat untuk mengatur hubungan sosial di dalam masyarakat.
• Berdasarkan tingkatannya, norma di dalam masyarakat dibedakan menjadi:
a. cara;
b. kebiasaan;
c. tata kelakuan;
d. adat istiadat.
• Berdasarkan aspeknya, norma dibedakan menjadi norma agama, norma kesusilaan, norma kesopanan, norma kebiasaan, dan norma hukum.

Nilai sosial

Sepanjang hidupnya, manusia akan hidup dan berhubungan dengan banyak orang dalam masyarakat. Dalam melaksanakan hubungan tersebut, setiap orang berkeinginan untuk dapat bebas melakukan hal yang diinginkan, tanpa ada batasan. Namun, hal itu tidak mungkin dilakukan karena akan terjadi benturan dan pertentangan dengan kepentingan-kepentingan anggota masyarakat lainnya. Oleh karena itu, kehidupan bersama manusia sebagai makhluk pribadi dan sosial selalu dilandasi oleh aturan-aturan tertentu. Misalnya, ketika teman kita sedang belajar atau menjalankan ibadah, kita tidak boleh bernyanyi atau berteriak-teriak meskipun sedang dalam keadaan gembira. Contoh lain, meskipun sedang lapar, kita tidak boleh mengambil kue yang ada di kantin tanpa membayar. Kita harus membelinya dahulu karena kue itu merupakan dagangan dan mata pencaharian penjaga kantin.
Aturan-aturan diciptakan dan disepakati bersama untuk mencapai ketenteraman dan kenyamanan hidup bersama dengan orang lain. Selanjutnya aturan-aturan itu dipakai sebagai ukuran, patokan, anggapan, serta keyakinan tentang sesuatu itu baik, buruk, pantas, janggal, asing, dan seterusnya. Selama hidup kita, banyak sekali aturan-aturan yang wajib kita pahami dan ikuti dengan kesungguhan dalam bermasyarakat.
Setiap kelompok sosial memerlukan seperangkat ukuran untuk mengendalikan beragam kemauan warganya yang senantiasa berubah dalam berbagai situasi dan kondisi. Melalui ukuran-ukuran tersebut, suatu masyarakat akan tahu mana yang baik atau buruk, benar atau salah, dan boleh atau sebaliknya dilarang. Oleh sebab itu keberadaan nilai sosial ciapat berubah-ubah kadarnya, atau dengan kata lain sesuatu yang amat bernilai di suatu tempat dan dalam suatu situasi dapat menjadi kurang bernilai atau tidak bernilai sama sekali dalam situasi dan tempat lainnya. Nilai sosial yang terbukti langgeng dan tahan zaman akan "mengkristal" atau membaku menjadi sistem nilai budaya. Berdasarkan sistem yang abstrak inilah, dinamika kehidupan masyarakat menjadi terarah dan stabil. Di sini juga kita mampu memberikan penjelasan berkenaan dengan pertanyaan yang selalu mengikuti orang-orang yang belajar sosiologi, yaitu "bagaimana mungkin masyarakat itu tetap ada sepanjang zaman, dan tidak pernah bubar meskipun berbagai gejolak dan perubahan ikut berlangsung di dalamnya?"

Klasifikasi Norma Sosial

Klasifikasi norma-norma sosial dapat didasarkan pada tingkatan daya ikat aspek-aspek dan resmi atau tidak resminya.
a. Berdasarkan tingkatan daya ikat
Norma-norma yang ada di dalam masyarakat mempunyai kekuatan mengikat yang berbeda-beda, ada yang berdaya ikat lemah, sedang, dan kuat. Umumnya, anggota masyarakat tidak berani melanggar norma yang berdaya ikat kuat karena akan mendapatkan sanksi hukum yang keras. Berdasarkan tingkatan daya ikat tersebut, norma dibedakan menjadi empat, yaitu:
1) Cara (usage)
Cara adalah suatu bentuk perbuatan tertentu yang dilakukan oleh individu-individu dalam suatu masyarakat, tetapi tidak secara terus-menerus. Norma ini berdaya ikat sangat lemah sehingga pelanggaran terhadapnya tidak akan mendapatkan hukuman/sanksi yang berat, hanya sekedar celaan atau teguran dari anggota masyarakat lainnya.
Contoh:
Cara makan yang wajar dan baik bagi beberapa orang adalah tidak mengeluarkan suara saat mengunyah makanan.. Akan tetapi di tempat tertentu, bersendawa di akhir makan dianggap sebagai tanda atau ekspresi rasa kenyang dan pugs sehingga tidak melanggar norma.

2) Kebiasaan (Folkways)
Kebiasaan merupakan suatu bentuk perbuatan berulang-ulang dengan bentuk yang sama serta dilakukan secara sadar dan mempunyai tujuan-tujuan jelas yang dianggap baik dan benar oleh masyarakat tersebut.
Contoh:
Memberi hadiah kepada orang-orang yang berprestasi dalam suatu kegiatan atau kedudukan, memakai baju bagus pada waktu pesta, berjalan kaki di sebelah kiri jalan, dan sebagainya.

3) Tata kelakuan (Mores)
Tata kelakuan adalah sekumpulan perbuatan yang mencerminkan sifat-sifat hidup dari selompok manusia yang dilakukan secara sadar guna melaksanakan pengawasan oleh sekelompok masyarakat terhadap anggota-anggotanya. Dalam tata kelakuan terdapat unsur memaksa atau melarang suatu perbuatan. Fungsinya adalah sebagai alat agar para anggota masyarakat menyesuaikan perbuatan-perbuatannya dengan tata kelakuan tersebut.
Contoh:
Melarang perbuatan membunuh, mencuri, dan menikahi kerabat dekat.

Fungsi tata kelakuan di dalam suatu masyarakat adalah sebagai berikut.
a) Memberi batasan-batasan pada perilaku individu dalam kelompok masyarakat tertentu.
b) Mendorong seseorang agar sanggup menyesuaikan tindakan-tindakannya dengan tata kelakuan yang berlaku di dalam kelompoknya.
c) Membentuk solidaritas antara anggota-anggota masyarakat dan sekaligus memberikan perlindungan terhadap keutuhan dan kerja sama dalam masyarakat tersebut.

4) Adat istiadat (custom)
Adat istiadat adalah kumpulan tata kelakuan yang paling tinggi kedudukannya karena bersifat kekal dan berintegrasi sangat kuat terhadap masyarakat yang memilikinya. Koentjaraningrat menyebutkan adat istiadat sebagai kebudayaan abstrak atau sistem nilai. Sedangkan menurut William H. Haviland, kebudayaan merupakan seperangkat peraturan dan norma yang dimiliki bersama oleh para anggota masyarakat, yang jika dilaksanakan akan melahirkan perilaku yang dipandang layak dan dapat diterima oleh semua anggota masyarakat. Oleh sebab itu, pelanggaran terhadap adat istiadat akan menerima sanksi yang keras, baik langsung maupun tidak langsung. Misalnya pelanggaran terhadap tata cara pembagian harta warisan dan pelanggaran terhadap pelaksanaan upacara-upacara tradisional.

b. Berdasarkan aspek-aspeknya
Norma sosial di masyarakat dibedakan menurut aspek-aspek tertentu tetapi saling berhubungan antara satu aspek dengan aspek yang lainnya. Pembagian itu adalah sebagai berikut.
1) Norma agama
Norma agama adalah peraturan sosial yang sifatnya mutlak dan tidak dapat ditawar-tawar atau diubah ukurannya karena berasal dari Tuhan. Biasanya norma agama tersebut berasal dari ajaran agama dan kepercayaan-kepercayaan lainnya (religi). Pelanggaran terhadap norma ini dikatakan berdosa.
Contoh:
Melakukan sembahyang atau penyembahan kepada-Nya, tidak berbohong, tidak boleh mencuri, dan sebagainya.

2) Norma kesusilaan
Norma kesusilaan adalah peraturan sosial yang berasal dari hati nurani yang menghasilkan akhlak. Dengan norma kesusilaan, seseorang dapat membedakan apa yang dianggap baik dan apa pula yang dianggap buruk. Pelanggaran terhadap norma ini berakibat sanksi pengucilan secara fisik (dipenjara, diusir) ataupun batin (dijauhi).
Contoh:
Pelacuran, melakukan zinah, dan melakukan tindakan korupsi.

3) Norma kesopanan
Norma kesopanan adalah peraturan sosial yang mengarah pada hal-hal yang berkenaan dengan bagaimana seseorang harus bertingkah laku wajar dalam kehidupan bermasyarakat. Pelanggaran terhadap norma ini akan mendapatkan celaan, kritik, dan pengucilan, tergantung pada tingkat pelanggaran.
Contoh :
Tidak meludah di sembarang tempat, memberi atau menerima sesuatu dengan tangan kanan.

4) Norma kebiasaan
Norma kebiasaan adalah sekumpulan peraturan sosial yang dibuat secara sadar atau tidak, berisi petunjuk tentang perilaku yang diulang-ulang sehingga menjadi kebiasaan individu. Pelanggaran terhadap norma ini berakibat celaan, kritik, hingga pengucilan secara batin.
Contoh:
Membawa oleh-oleh apabila pulang dari suatu tempat, bersalaman ketika bertemu dengan orang lain.

5) Norma hukum
Norma hukum adalah aturan sosial yang dibuat oleh lembaga-lembaga tertentu, misalnya pemerintah, sehingga dapat dengan tegas melarang serta memaksa orang untuk dapat berperilaku sesuai dengan keinginan pembuat peraturan itu. Pelanggaran terhadap norma ini akan mendapatkan sanksi berupa denda atau hukuman fisik (dipenjara atau bahkan dihukum mati).
Contoh:
Wajib membayar pajak, dilarang menerobos lampu merah, atau menyeberang jalan melalui jembatan penyeberangan
Norma agama dan norma kesusilaan berlaku secara luas di setiap kelompok masyarakat, bagaimana pun tingkat peradabannya. Sedangkan, norma kesopanan dan norma kebiasaan hanya dipelihara dan dilaksanakan oleh sekelompok masyarakat tertentu saja. Hal ini terjadi karena setiap kelompok masyarakat memiliki norma kesopanan dan norma kebiasaan yang berbeda-beda.

c. Berdasarkan resmi dan tidak resmi
1) Norma tidak resmi (nonformal)
Norma tidak resmi ialah patokan yang dirumuskan secara tidak jelas (subconscious) dan pelaksanaannya tidak diwajibkan bagi warga masyarakat yang bersangkutan. Norma tersebut tumbuh dari kebiasaan bertindak yang seragam dan diterima oleh masyarakat. Walaupun "tidak diwajibkan", namun semua anggota sadar bahwa patokan tidak resmi harus ditaati dan mempunyai kekuatan memaksa yang lebih besar daripada patokan resmi. Patokan dijumpai dalam kelompok primer, seperti keluarga atau ikatan paguyuban.

2) Norma resmi (formal)
Norma resmi ialah patokan yang dirumuskan dan diwajibkan dengan jelas dan tegas oleh yang berwenang kepada semua warga masyarakat. Keseluruhan norma formal ini merupakan suatu badan hukum yang dimiliki masyarakat modern dan diperkenalkan melalui pengumuman secara resmi.
Pembuatan peraturan tidak hanya didasarkan pada kebiasaan yang sudah ada, tetapi lebih pada prinsip susila (etika) serta prinsip "baik dan buruk". Dari sumber moral itulah dibuat perundang-undangan, keputusan, dan peraturan. Oleh karena itu, diperlukan pertimbangan rasional mengenai tujuan yang hendak dicapai dan faktor-faktor yang dapat menghambat.
Dalam masyarakat maju, sebagian patokan resmi dijabarkan dalam konteks peraturan hukum. Masyarakat berubah menjadi masyarakat hukum sehingga menumbuhkan kebutuhan akan peraturan hukum. Hukum positif (tertulis) diperlukan demi terciptanya keseragaman bertindak bagi semua anggota masyarakat modern yang tidak lagi mematuhi hukum adat.

Klasifikasi Nilai Sosial

Sistem nilai merupakan rangkaian nilai sosial yang sangat kompleks. Oleh karena itu, nilai sosial dapat diklasifikasikan sebagai berikut.
a. Klasifikasi nilai sosial menurut Prof. Notonegoro
1) Nilai material, yaitu segala sesuatu yang berguna bagi jasmani manusia atau benda-benda nyata yang dapat dimanfaatkan sebagai kebutuhan fisik manusia.
2) Nilai vital, yaitu segala sesuatu yang berguna bagi manusia agar dapat melakukan aktivitas atau kegiatan dalam hidupnya.
3) Nilai rohani, yaitu segala sesuatu yang berguna bagi pemenuhan kebutuhan rohani (spiritual) manusia yang bersifat universal. Nilai rohani dibedakan menjadi:
a) Nilai kebenaran dan nilai empiris, yaitu nilai yang bersumber dari proses berpikir teratur menggunakan akal manusia dan diikuti dengan fakta-fakta yang telah terjadi (logika, rasio).
b) Nilai keindahan, yaitu nilai-nilai yang bersumber dari unsur rasa manusia (perasaan dan estetika).
c) Nilai moral, yaitu nilai sosial yang berkenaan dengan kebaikan dan keburukan, bersumber dari kehendak atau kemauan (karsa dan etika).
d) Nilai religius, yaitu nilai ketuhanan yang berisi keyakinan/kepercayaan manusia terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

b. Klasifikasi nilai sosial menurut Clyde Kluckhohn Mencakup lima masalah pokok, yaitu:
1) Nilai hakikat hidup manusia, terdiri atas:
a) Masyarakat yang menganggap hidup itu buruk.
b) Masyarakat yang menganggap hidup itu baik.
c) Masyarakat yang menganggap hidup itu buruk, tetapi manusia wajib berikhtiar (berusaha) supaya hidup menjadi lebih baik.
2) Nilai hakikat karya manusia, terdiri atas:
a) Masyarakat yang menganggap karya manusia untuk memungkinkannya hidup.
b) Masyarakat yang menganggap karya manusia untuk memberikan kedudukan yang penuh kehormatan.
c) Masyarakat yang menganggap karya manusia sebagai gerak hidup untuk menghasilkan karya lagi.
3) Nilai hakikat kedudukan manusia dalam ruang dan waktu, terdiri atas:
a) Masyarakat yang memandang penting untuk berorientasi ke masa lalu.
b) Masyarakat yang mementingkan pandangan pada masa sekarang.
c) Masyarakat yang mementingkan pandangan ke masa depan.
4) Nilai hakikat hubungan manusia dengan alam sekitar, terdiri atas:
a) Masyarakat yang memandang alam sebagai suatu hal yang dahsyat sehingga manusia hanya bisa menyerah saja tanpa banyak berusaha.
b) Masyarakat yang menganggap alam sebagai suatu yang bisa dilawan manusia.
c) Masyarakat yang menganggap manusia hanya bisa berusaha mencari keselarasan dengan alam.
5) Nilai hakikat hubungan dengan manusia dengan sesamanya, terdiri atas:
a) Masyarakat yang amat mementingkan hubungan vertikal antara manusia dengan sesamanya. Pola perilaku akan lebih berpedoman pada tokoh pemimpin, senior, atau atasan.
b) Masyarakat yang lebih mementingkan hubungan horizontal dengan sesamanya. Orang-orang dalam masyarakat ini amat bergantung pada sesamanya dan berusaha menjaga hubungan baik dengan tetangga dan sesamanya, sebagai hal yang amat penting dalam hidup.
c) Masyarakat yang beranggapan bahwa bergantung pada orang lain adalah tidak benar. Masyarakat tipe ini menilai tinggi manusia yang bisa berdiri sendiri dan mencapai tujuannya dengan hanya sedikit mendapatkan bantuan dari orang lain.

c. Klasifikasi nilai berdasarkan ciri-cirinya
1) Nilai yang terencanakan atau mendarah daging (internalized value). Artinya, nilai itu menjadi kepribadian bawah sadar dan mendorong timbulnya tindakan tanpa dipikirkan lagi. Pelanggaran atas nilai-nilai tersebut mengakibatkan timbulnya perasaan malu atau bersalah yang dalam dan sukar dilupakan. Misalnya:
a) Orang yang taat pada agama akan merasa berdosa jika melanggar salah satu ajaran agamanya.
b) Seorang prajurit akan menolong temannya yang terluka di medan pertempuran, meskipun dapat membahayakan jiwanya.
c) Seorang ayah akan rela mempertaruhkan nyawa untuk menyelamatkan keluarganya dari sebuah rumah yang terbakar.
2) Nilai dominan adalah nilai yang dianggap lebih penting daripada nilai-nilai lainnya. Hal ini terlihat dalam pilihan yang dilakukan orang saat berhadapan dengan beberapa alternatif tindakan yang dapat diambil. Ukuran yang digunakan dalam menentukan nilai dominan didasarkan pada hal-hal berikut ini.
a) Banyaknya orang yang menganut nilai tersebut.
b) Lamanya nilai itu dianut oleh anggota kelompok.
c) Tingginya usaha yang dilakukan untuk mempertahankan nilai tersebut.
d) Tingginya kedudukan (prestise) orang-orang yang membawa nilai tersebut.

Minggu, 21 September 2014

Ciri-ciri Nilai Sosial

Ciri-ciri nilai sosial adalah sebagai berikut.
a. Diterapkan melalui proses interaksi antarmanusia yang terjadi secara intensif dan bukan perilaku yang dibawa sejak lahir.
Contoh: Agar seorang anak bisa menerima nilai menghargai waktu, orang tuanya harus mengajarkan disiplin dan memberi contoh sejak dia kecil.
b. Ditransformasikan melalui proses belajar yang meliputi sosialisasi, enkulturasi, dan difusi.
Contoh: Nilai menghargai persahabatan akan dipelajari anak dari pergaulan dengan teman-temannya di sekolah.
c. Berupa ukuran atau peraturan sosial yang turut memenuhi kebutuhan-kebutuhan sosial.
Contoh: Nilai menghargai antrian yang ada menjadi ukuran tertib tidaknya seseorang, sekaligus menjadi aturan yang wajib diikuti.
d. Berbeda-beda pada tiap kelompok manusia.
Contoh: Masyarakat Eropa sangat menghargai waktu sehingga sulit memberikan toleransi pada keterlambatan. Sebaliknya di Indonesia, keterlambatan dalam jangka waktu tertentu masih dapat ditoleransi.
e. Memiliki efek yang berbeda-beda terhadap tindakan manusia.
Contoh: Nilai mengutamakan uang di atas segalanya membuat orang berusaha mencari uang sebanyak-banyaknya. Namun, nilai kebahagiaan lebih penting dari uang membuat orang lebih mengutamakan hubungan baik dengan sesama.
f. Dapat memengaruhi kepribadian individu sebagai anggota masyarakat.
Contoh: Nilai yang lebih mengutamakan kepentingan pribadi akan melahirkan individu yang egois dan kurang peduli pada orang lain. Sedangkan nilai yang mengutamakan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi akan membuat individu tersebut lebih peka secara sosial.
Demikianlah ciri-ciri nilai sosial beserta contohnya. Semoga itu semua sudah cukup untuk menambah pengetahuan anda.

Sabtu, 20 September 2014

Tes Pengukuran Kelincahan

a. Bentuk-bentuk latihan untuk meningkatkan kelincahan antara lain: lari bolak-balik, lari zig-zag, lari rintangan, dan squat thrust.
b. Tes dan Pengukuran kelincahan
Untuk mengetahui kelincahan atlet dalam olahraga dapat diukur dengan suatu tes kelincahan yang meliputi:
1) Tes lari rintangan (obstacle run)
Tes lari rintangan dapat dilakukan dalam suatu rintangan atau lapangan dengan menempatkan beberapa rintangan. Teknik pelaksanaan adalah testee/siswa beriari secepat-cepatnya melalui rintangan. Rintangan tersebut baik dengan cara melompatinya, menerobos (di kolong meja) dll.

2) Tes Boomerang Run
Alat dan perlengkapan: stopwatch., formulir dan alat tulis, lapangan dibuat tiga atau lima titik yang berbentuk L, masing-masing titik berjarak 4 m.
b) Pelaksanaan
- Start dilakukan dengan sikap berdiri
- Pada aba-aba bersedia siswa/testee berdiri dengan salah satu kaki sedekat mungkin dengan garis start.
- Setelah tenang, aba-aba siap dan siswa siap untuk berlari.
- Pada aba-aba ya siswa segera berlari dengan cepat melingkari ketiga/kelima titik dalam lapangan.
- Bersamaan dengan aba-aba ya stopwatch dijalankan dan pada saat siswa selesai berlari dan sampai pada garis start stopwatch dihentikan.
- Hasil yang dicatat adalah waktu yang dicapai siswa/testee dalam menyelesaikan lari

3) Tes lari bolak-balik
Siswa/testee berlari bolak-balik secepatnya dari titik yang satu ke titik yang lain yaitu 8 x 5 m. Hasil yang dicatat adalah waktu yang dicapai siswa dalam melakukan tes lari bolak-balik.

4) Tes squat thrust
a) Cara melakukan tes squat thrust:
- Berdiri tegak, kemudian jongkok, tangan di Iantai.
- Lempar kaki ke belakang sehingga seluruh tubuh lurus dalam sikap push up.
- Dengan kedua lengan tetap bersandar di lantai, lempar kedua kaki ke depan antara kedua lengan. Luruskan seluruh badan (menghadap ke atas)
- Satu tangan lepaskan dari lantai dan segera balikkan badan hingga berada dalam sikap push up kembali
- Kembali berdiri tegak. Seluruh gerakan dilakukan dengan cepat
b) Hasil yang dicatat adalah berapa kali siswa dapat melakukan tes tersebut selama 30 detik.

5) Tes lari zig-zag
Siswa berlari dengan cepat melalui beberapa titik misalnya 10 titik.
Hasil yang dicatat adalah waktu yang dicapai siswa dalam melakukan tes lari zig-zag.