Jumat, 24 Oktober 2014

Uang Pada Zaman Dahulu Kala

Pada dasarnya, uang adalah segala sesuatu yang diterima secara luas sebagai alat pembayaran. Dengan konsep dasar seperti ini, kita bisa melihat bahwa uang tidaklah semata-mata uang logam dan uang kertas seperti yang kita kenal saat ini. Uang telah ada sejak zaman dahulu. Penggunaan uang dalam bentuk primitif dapat ditemukan dan tercatat dengan baik di dunia ketiga dan di Amerika Selatan. Salah satu bentuk uang adalah penggunaan wampum dan potlatch di Amerika Utara. Sementara di Afrika dan Asia, uang dikenal dalam bentuk ternak, anak panah, manilla, bahkan gigi ikan paus.
Di pantai barat Afrika, mulai dari Congo hingga ke Senegal dikenal alat pembayaran yang bernama Manilla. Manilla atau gelang perunggu merupakan benda metal dengan ornamen yang dikenakan sebagai perhiasan dan digunakan sebagai uang. Sulit untuk dilacak sejak abad ke berapa tepatnya Manilla digunakan, namun diperkirakan Manilla telah digunakan sejak abad ke-16 atau bahkan lebih awal lagi. Bahkan hingga tahun 1949, Manilla masih digunakan oleh sebagian masyarakat di Afrika. Karena sebagai sebuah perhiasan nilainya dianggap tinggi, Manilla diterima sebagai uang.
Begitu juga dengan penggunaan Wampum oleh masyarakat asli Indian di Amerika Utara. Wampum merupakan manik-manik putih yang dibuat dari kerang yang ditemukan di sepanjang pantai timur dan sungai besar di Amerika Utara.
Di dalam masyarakat Fiji, gigi ikan paus digunakan sebagai mahar pernikahan. Binatang ternak seperti sapi atau kerbau dianggap sebagai aset yang dapat disamakan dengan uang. Alasan ini masuk akal karena kepemilikan sapi seringkali dikaitkan dengan kekayaan seseorang. Sapi, seperti uang koin, dapat dihitung. Sebuah penelitian di Afrika menujukkan bahwa bukan sapi sehat saja yang dinilai sebagai uang, tapi juga sapi yang kurus. Di Rusia, hingga permulaan abad ini, masih ada yang menggunakan kuda dan domba sebagai uang. Sebagai uang kembalian, mereka menggunakan kulit domba.

Kamis, 23 Oktober 2014

Teori Pemungutan Pajak

Menurut R. Santoso Brotodiharjo SH, dalam bukunya Pengantar Ilmu Hukum Pajak, ada beberapa teori yang mendasari adanya pemungutan pajak, yaitu:
1. Teori Asuransi
Menurut teori ini, negara mempunyai tugas untuk melindungi warganya dari segala kepentingannya baik keselamatan jiwanya maupun keselamatan harta bendanya. Untuk perlindungan tersebut diperlukan biaya seperti layaknya dalam perjanjian asuransi diperlukan adanya pembayaran premi. Pembayaran pajak ini dianggap sebagai pembayaran premi kepada negara. Teori ini banyak ditentang karena negara tidak boleh disamakan dengan perusahaan asuransi.
2. Teori Kepentingan
Menurut teori ini, dasar pemungutan pajak adalah adanya kepentingan dari masing-masing warga negara. Termasuk kepentingan dalam perlindungan jiwa dan harta. Semakin tinggi tingkat kepentingan perlindungan, maka semakin tinggi pula pajak yang harus dibayarkan.
Teori ini banyak yang menentang, karena pada kenyataannya bahwa tingkat kepentingan perlindungan orang miskin lebih tinggi daripada orang yang kaya. Ada perlindungan jaminan sosial, kesehatan, dan lain-lain. Bahkan orang yang miskin justru dibebaskan dari beban pajak.
3. Teori Gaya Pikul
Menurut teori ini, dasar pemungutan pajak adalah terletak pada kemampuan (gaya pikul) membayar pajak bagi wajib pajak. Pajak harus dibayar sesuai dengan gaya pikul (kemampuan) seseorang. Untuk mengukur gaya pikul seseorang, perlu diketahui hal-hal sebagai berikut.
a. Penghasilan
b. Kekayaan
c. Pengeluaran (belanja)
d. Tanggungan keluarga
Semakin banyak tanggungan keluarga, maka akan semakin kecil kemampuan (gaya pikul) seseorang untuk membayar pajak, sekalipun penghasilannya banyak.
4. Teori Bakti
Menurut teori ini dasar pemungutan pajak terletak pada hubungan antara rakyat dengan negara. Rakyat mempunyai kewajiban untuk membayar pajak kepada negara. Pembayaran pajak dari rakyat kepada negara merupakan bentuk ungkapan bakti rakyat kepada negaranya, sehingga teori ini sering disebut sebagai teori kewajiban pajak mutlak.
5. Teori Asas Gaya Beli
Menurut teori ini, dasar pemungutan pajak adalah adanya manfaat dari pajak. Yaitu pajak yang dipungut dari rumah tangga yang ada di masyarakat masuk ke rumah tangga negara kemudian disalurkan kembali ke masyarakat. Tujuannya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Jadi, sudah sepantasnya negara sebagai penyelenggara kepentingan masyarakat memungut pajak kepada masyarakat.

Rabu, 22 Oktober 2014

Pengertian Produk Domestik Regional Bruto (PDRB)

Pembangunan suatu daerah dapat berhasil dengan baik apabila didukung oleh suatu perencanaan, yang mantap sebagai dasar penentuan strategi, pengambilan keputusan, dan evaluasi hasil-hasil pembangunan. Dalam menyusun perencanaan pembangunan yang baik perlu menggunakan data statistik yang memuat informasi tentang kondisi riil suatu daerah pada saat certentu sehingga kebijakan dan strategi yang telah atau akan dilaksanakan dapat dimonitor dan dievaluasi.
Salah satu indikator ekonomi makro yang biasanya digunakan untuk mengevaluasi hasil-hasil pembangunan di suatu daerah dalam lingkup kabupaten dan kota adalah Produk Domestik Regional Bruto atau PDRB.
Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) adalah jumlah nilai tambah atau jumlah nilai barang dan jasa akhir yang dihasilkan oleh seluruh unit usaha dalam suatu daerah dalam satu tahun tertentu. PDRB dihitung berdasarkan harga yang berlaku dan atas harga konstan. PDRB atas harga berlaku menggambarkan nilai-nilai rambah barang dan jasa yang dihitung menggunakan harga pada tahun tersebut, sedangkan PDRB atas harga konstan menunjukkan nilai tambah barang dan jasa yang dihitung menggunakan harga pada tahun dasar.
PDRB merupakan jumlah bruto yang dihasilkan suatu daerah dalam satu tahun tertentu. Untuk jumlah netonya kita mengenal PDRN (Produk Domestik Regional Neto). Perbedaan antara konsep neto dan bruto ialah konsep bruto masih mengandung komponen penyusutan, sedangkan pada konsep neto komponen penyusutan tersebut telah dikeluarkan. Dengan demikian, PDRN sama dengan PDRB dikurangi dengan biaya penyusutan atas barang modal yang digunakan dalam proses produksi barang dan jasa.
PDRB merupakan total pendapatan yang berasal dari suatu daerah. Akan tetapi, pendapatan yang dimaksud tidak seluruhnya menjadi pendapatan dari penduduk atau pemilik faktor produksi yang tinggal di daerah tersebut. Hal ini karena ada sebagian pendapatan yang diterima penduduk daerah lain, misalnya perusahaan yang modalnya dimiliki oleh orang luar daerah, maka dengan sendirinya keuntungan perusahaan itu sebagian menjadi milik orang luar daerah tersebut. Sebaliknya kalau ada penduduk daerah tersebut yang menanamkan modalnya di luar daerah, maka sebagian keuntungan dari luar daerah menjadi milik penduduk daerah tersebut.

Pengertian Pendapatan Nasional

Konsep pendapatan nasional sangat terkenal, bahkan orang yang tidak mengerti ilmu ekonomi pun pernah mendengarnya. Pengertiannya sederhana saja, yakni penjumlahan dari semua pendapatan individu, namun kenyataannya tidak sesederhana pengertiannya tersebut.
Sir William Petty dari Inggris merupakan orang pertama yang berusaha menaksir pendapatan nasional negaranya (Inggris) sebesar 40 juta pound di tahun 1665. Perhitungan tersebut berdasarkan anggapannya bahwa pendapatan nasional merupakan penjumlahan biaya hidup (konsumsi) selama setahun. Namun, pendapat tersebut tidak disepakati oleh para ahli ekonomi modern, sebab menurut pandangan ilmu ekonomi modern, konsumsi bukanlah satu-satunya unsur di dalam pendapatan nasional. Menurut ahli ekonomi modern, alat utama sebagai pengukur kegiatan perekonomian adalah Produk Nasional Bruto (Gross National Product, GNP), yaitu seluruh jumlah barang dan jasa yang dihasilkan tiap tahun oleh suatu negara yang diukur menurut harga pasar. Oleh karena itu, pengertian pendapatan nasional adalah ukuran dari nilai total barang dan jasa yang dihasilkan suatu negara dalam kurun waktu rertentu (biasanya satu tahun) yang dinyatakan dalam satuan uang.
Untuk memberikan penjelasan yang lebih rinci, beberapa konsep pendapatan nasional secara berturut-berturut dibahas di bawah ini.
1. Produk Domestik Bruto (Gross Domestic Product / GDP)
Produk domestik bruto merupakan jumlah produk berupa barang dan jasa yang dihasilkan oleh unit-unit produksi di dalam batas wilayah suatu negara (domestik) selama 1 (satu) tahun. Dalam perhitungan GDP ini, termasuk juga hasil produksi barang dan jasa yang dihasilkan oleh perusahaan/orang asing yang beroperasi di wilayah suatu negara. Barang-barang yang dihasilkan termasuk barang modal yang belum diperhitungkan penyusutannya, maka jumlahnya masih bersifat bruto/kotor. Bila diperhatikan, negara Indonesia menghasilkan barang dan jasa yang dihasilkan oleh warga negara Indonesia dan orang atau perusahaan asing di Indonesia. Sebaliknya, ada pula produk yang dihasilkan oleh warga negara Indonesia di luar negeri . Hasil produksi orang atau lembaga asing di dalam negeri sebenarnya bukan milik Indonesia, jadi wajar pada akhirnya Indonesia harus membayarkan kepada pihak luar negeri yang menghasilkannya. Demikian juga beberapa produk Indonesia yang dihasilkan di luar negeri, akan diterima dan dimasukkan sebagai bagian dari pendapatan nasional. Semua hasil produksi orang/perusahaan asing di dalam negeri yang harus dibayarkan disebut factor income payment to abroad, sedangkan hasil produksi di luar negeri yang diterima disebut factor income receipt from abroad. Apabila yang dibayarkan lebih kecil daripada yang diterima, maka akan terjadi pembayaran ke dalam negeri. Selisihnya merupakan pendapatan neto ke dalam negeri atau net factor income to domestic, sebaliknya apabila yang dibayarkan lebih besar daripada yang diterima, maka terjadi pembayaran neto ke luar negeri atau disebut net factor income payment to abroad.
Jika net factor income tersebut diberi notasi n maka:
GDP — n = GNP atau GNP + n = GDP
Pada bagian selanjutnya kamu akan mempelajari metode penghitungan pendapatan nasional. GDP merupakan pendapatan nasional yang dihitung melalui pendekatan/metode produksi.

2. Produk Nasional Bruto (Gross National Product / GNP)
Produk Nasional Bruto atau PNB meliputi nilai produk berupa barang dan jasa yang dihasilkan oleh penduduk suatu negara (nasional) selama 1 tahun. Dalam pengertian PNB (GNP) ini, termasuk hasil produksi barang dan jasa yang dihasilkan oleh warga negara yang berada di luar negeri, tetapi tidak termasuk hasil produksi perusahaan asing yang beroperasi di wilayah negara tersebut. Apabila ada hasil produksi perusahaan asing yang beroperasi di wilayah negara Indonesia, harus dikurangkan. Sebenarnya perbedaan PDB (GDP) dengan PNB (GNP) terletak pada net factor income saja.
Jika GDP lebih besar dari GNP, maka penanaman modal asing lebih besar dari penanaman modal negara tersebut di luar negeri. Keadaan seperti ini merupakan indikasi bahwa negara itu belum meluaskan usahanya ke luar negeri dan masih menerima banyak modal dari luar negeri. Sebaliknya, jika GDP lebih kecil dari GNP biasanya negara itu mampu menanamkan modal lebih banyak di luar negeri daripada menerima modal asing dari luar negeri. Produk Nasional Bruto (PNB) merupakan pendapatan nasional yang diperoleh melalui pendekatan metode pengeluaran.

3. Produk Nasional Neto (Net National Product)
Produk Nasional Neto (NNP) adalah GNP dikurangi depresiasi atau penyusutan yang disebut juga replacement dari barang modal. Replacement atau penggantian barang modal/penyusutan bagi peralatan produksi yang terpakai dalam proses produksi umumnya bersifat taksiran sehingga mungkin saja kurang tepat dan dapat menimbulkan kesalahan meskipun relatif kecil.
NNP = GNP — Penyusutan (Replacement)

4. Pendapatan Nasional Neto (Net National Income)
Pendapatan Nasional Neto (NNI) adalah pendapatan yang dihitung menurut jumlah balas jasa yang diterima oleh masyarakat sebagai pemilik faktor produksi. Besarnya NNI dapat diperoleh dari NNP dikurangi pajak tidak langsung. Pajak tidak langsung adalah pajak yang bebannya dapat dialihkan kepada pihak lain, contoh pajak penjualan, pajak impor, bea ekspor, dan cukai-cukai.
NNI = NNP — Pajak Tidak Langsung

5. Pendapatan Perseorangan (Personal Income)
Pendapatan perseorangan adalah jumlah pendapatan yang diterima oleh setiap orang dalam masyarakat termasuk pendaparan yang diperoleh tanpa memberikan suatu kegiatan apapun. Dalam pendapatan perseorangan termasuk juga pembayaran transfer (transfer payment). Transfer payment adalah penerimaan-penerimaan yang bukan merupakan balas jasa proses produksi tahun ini, melainkan diambil dari sebagian pendapatan nasional tahun yang lalu, contoh pembayaran dana pensiunan, tunjangan sosial bagi para pengangguran, bekas pejuang, bunga utang pemerintah dan sebagainya. Untuk mendapatkan jumlah pendapatan perseorangan terlebih dahulu NNI harus dikurangi dengan:
a. pajak laba perusahaan, yaitu pajak yang dibayar oleh setiap badan kepada pemerintah,
b. laba yang tidak dibagi, yaitu sejumlah laba yang tetap ditahan di dalam perusahaan untuk beberapa tujuan tertentu misalnya keperluan perluasan perusahaan, dan
c. iuran pensiun, yaitu iuran yang dikumpulkan oleh setiap tenaga kerja dan setiap perusahaan dengan maksud untuk dibayarkan kembali setelah tenaga kerja tersebut tidak lagi bekerja (pensiun). Juga termasuk iuran jaminan sosial iuran asuransi.
PI = NNI — (pajak perusahaan + laba ditahan + iuran jaminan sosial) + transfer payment

6. Pendapatan yang Dapat Dibelanjakan (Disposable Income)
Disposable income adalah pendapatan yang siap untuk dimanfaatkan guna membeli barang dan jasa konsumsi dan selebihnya menjadi tabungan yang disalurkan menjadi investasi. Disposable income ini diperoleh dari personal income (PI) dikurangi dengan pajak langsung. Pajak langsung (direct tax) adalah pajak yang bebannya tidak dapat dialihkan kepada pihak lain, artinya harus langsung ditanggung oleh wajib pajak, contohnya pajak pendapatan.
Disposable income = Personal income — Direct tax (Pajak langsung)

Pengertian inflasi

Inflasi adalah suatu keadaan yang mengakibatkan naiknya harga secara umum atau suatu proses meningkatnya harga-harga secara umum dan terus-menerus (kontinu). Dengan kata lain, inflasi merupakan proses menurunnya nilai uang secara kontinu. Inflasi merupakan proses suatu peristiwa dan bukan tinggi-rendahnya tingkat harga. Artinya, tingkat harga yang dianggap tinggi belum menunjukkan inflasi, dianggap inflasi jika terjadi proses kenaikan harga yang terus-menerus dan saling pengaruh-mempengaruhi.
Di dalam definisi inflasi tersebut tercakup tiga aspek peting, yaitu
1) Adanya kecenderungan harga-harga untuk meningkat, yang berarti mungkin saja tingkat harga yang terjadi/aktual pada waktu tertentu turun atau naik dibandingkan dengan sebelumnya, tetapi tetap menunjukkan kecenderungan yang meningkat.
2) Peningkatan harga tersebut berlangsung terus-menerus, yang berarti bukan terjadi pada suatu waktu saja.
3) Mencakup pengertian tingkat harga umum, yang berarti tingkat harga yang meningkat bukan hanya pada satu waktu atau beberapa komoditas saja.

Penggolongan inflasi
1) Berdasarkan Sumber Timbulnya Inflasi
Berdasarkan sumber timbulnya, inflasi dibedakan menjadi dua.
a) Inflasi yang berasal dari dalam negeri, misalnya sebagai akibat terjadinya defisit anggaran belanja yang dibiayai dengan cara mencetak uang baru dan gagalnya pasar yang berakibat harga bahan makanan menjadi mahal.
b) Inflasi yang berasal dari luar negeri, yaitu inflasi sebagai akibat naiknya harga barang impor. Hal ini bisa terjadi akibat biaya produksi barang di luar negeri tinggi atau adanya kenaikan tarif impor barang.
2) Berdasarkan Cakupan Pengaruh Kenaikan Harga
Jika kenaikan harga secara umum hanya berkaitan dengan beberapa barang tertentu secara kontinu disebut inflasi tertutup (closed inflation) dan apabila kenaikan harga terjadi secara keseluruhan disebut inflasi terbuka (open inflation), sedangkan apabila serangan inflasi demikian hebatnya dan setiap saat harga-harga terus berubah dan meningkat sehingga orang tidak dapat menahan uang lebih lama disebabkan nilai uang terus merosot disebut inflasi yang tidak terkendali (hyper inflation).
3) Berdasarkan Parah atau Tidaknya Inflasi
Berdasarkan parah atau tidaknya, inflasi dapat digolongkan:
a) inflasi ringan (di bawah 10% setahun),
b) inflasi sedang (antara 10% — 30% setahun),
c) inflasi berat (antara 30% — 100% setahun), dan
d) inflasi tak terkendali (di atas 100% setahun).
Penggolongan inflasi berdasarkan parah atau tidaknya ini berguna untuk melihat dampak dari inflasi yang bersangkutan. Apabila inflasi itu ringan, justru mempunyai pengaruh yang positif dalam arti dapat mendorong perekonomian untuk berkembang lebih baik, yaitu meningkatkan pendapatan nasional dan membuat orang menjadi bergairah untuk bekerja, menabung, dan mengadakan investasi. Sebaliknya, dalam masa inflasi yang parah, yaitu pada saat terjadi inflasi tak terkendali (hyper inflation) keadaan perekonomian menjadi kacau dan perekonomian dirasakan lesu, orang menjadi tidak bersemangat bekerja, menabung atau mengadakan investasi dan produksi karena harga meningkat dengan cepat, para penerima pendapatan tetap seperti pegawai negeri atau karyawan swasta serta kaum buruh akan kewalahan menanggung dan mengimbangi harga sehingga hidup mereka menjadi semakin merosot dan terpuruk dari waktu ke waktu.
Demikian juga pengusaha yang bergerak dalam menghasilkan barang. Kenaikan harga yang begitu cepat, menyebabkan mereka takut memproduksi barang, karena seringkali pada saat barang siap dijual, harga jual tidak dapat menutupi biaya untuk membeli bahan mentah dan pembantu berikutnya karena harga sudah meningkat lagi, sehingga orang yang memiliki modal lebih mudah berspekulasi dengan membeli barang, kemudian menyimpannya dan menjualnya saat harga tertinggi. Dengan kata lain, investasi dan produksi digantikan dengan penumpukan barang sebagai akibat barang dan jasa semakin langka, harga semakin cepat naiknya, nilai uang merosot luas dan selanjutnya bila semua orang beranggapan harga akan selalu menjadi lebih tinggi di kemudian hari, akan semakin memperparah keadaan perekonomian.

Selasa, 21 Oktober 2014

Sistem Standar Moneter

Standar moneter merupakan sistem moneter yang didasarkan atas standar nilai uang. Dalam standar moneter terdapat peraturan tentang sifat-sifat uang, pengaturan tentang jumlah uang yang beredar, ekspor-impor logam-logam mulia serta fasilitas bank dalam hubungannya dengan ekspansi demand deposit. Sistem standar moneter dapat dibedakan menjadi dua, yaitu standar logam dan standar kertas.
1. Standar Logam (Metalisme)
Standar metalisme terjadi apabila logam tertentu digunakan sebagai standar keuangan negara. Secara historis, logam emas dan perak digunakan sebagai landasan moneter oleh kebanyakan negara. Standar metalisme dapat dibedakan menjadi tiga jenis, yaitu standar tunggal, kembar, dan pincang.
a. Sistem standar tunggal (monometalisme)
Monometalisme merupakan suatu sistem standar moneter yang memakai emas atau perak sebagai standar keuangan. Apabila emas atau perak dipakai sebagai standar keuangan negara, uang emas atau uang perak dapat beredar tiap waktu. Sistem standar tunggal emas terdiri atas tiga standar, yaitu standar emas penuh, inti emas dan wesel emas.
Dalam standar emas penuh (pure gold standard), uang emas atau uang kertas yang beredar dapat ditukarkan penuh dengan emas di bank peredaran. Dalam standar inti emas (gold bullion standard), emas dikumpulkan di bank sirkulasi, tetapi tidak ada dalam peredaran. Emas yang terkumpul di bank dapat digunakan untuk pembayaran luar negeri apabila diperlukan. Dalam wesel emas (gold exchange standard), emas dan wesel-wesel dipakai sebagai standar keuangan negara.

b. Sistem standar kembar (bimetalisme)
Bimetalisme merupakan suatu sistem moneter yang memakai emas dan perak sebagai dasar keuangan negara. Penggunaan sistem ini memiliki keunggulan dan kelemahan. Keunggulan penggunaan sistem standar kembar, antara lain:
1) tidak terlalu tergantung pada satu macam logam saja,
2) uang yang beredar dapat bergantian dengan diatur oleh undang-undang,
3) apabila beredar bersamaan, nilai uang ditentukan oleh nilai logam uang tersebut di pasar,
4) tiap orang dapat membuat dan melebur uang, sehingga tidak ada pihak-pihak yang mendapat keuntungan karena terjadi perbedaan harga antara nilai uang dan nilai bahan.
Kelemahan penggunaan sistem standar kembar, antara lain:
1) menghilangkan kepercayaan masyarakat terhadap uang,
2) berlakunya hukum Gresham, yaitu uang logam yang bernilai rendah,
3) terjadi peleburan dan penimbunan uang yang bernilai tinggi, sehingga logam bernilai tinggi sulit diperoleh,
4) salah satu uang logam tidak dapat dipakai untuk transaksi ketika diberlakukan standar alternatif.

c. Sistem standar pincang
Dalam sistem pincang, emas dipakai sebagai dasar keuangan, sedangkan uang perak merupakan alat pembayaran yang sah. Namun, masyarakat dilarang membuat uang tersebut. Standar ini tidak dapat dipertahankan, karena negara-negara lain tetap menggunakan standar tunggal emas.

2. Standar Kertas (Ametalisme)
Ametalisme disebut juga standar kertas atau standar bebas. Dalam standar ini uang kertas berlaku sebagai alat pembayaran yang sah. Penggunaan standar kertas memiliki keunggulan dan kelemahan. Keunggulan penggunaan standar kertas, antara lain:
a. uang dipertanggungjawabkan oleh pemerintah atau melalui bank peredaran,
b. uang yang beredar dapat dihitung secara kuantitatif dan kualitatif,
c. biaya pembuatannya relatif murah,
d. pengedaran uang lebih mudah,
e. lebih elastis dalam persediaan.
Kelemahan yang timbul dari penggunaan standar kertas, antara lain:
a. mudah dipalsukan,
b. tidak dapat ditukarkan dengan jaminannya yang disimpan di bank peredaran,
c. nilai selalu berubah-ubah,
d. bahan cepat rusak,
e. menuntut pemerintah untuk selalu mengontrol stabilitas keuangan secara aktif dan dinamis.

Sejarah Uang

Sejarah lahirnya uang sebagai alat tukar menukar dalam kegiatan perkeonomian terbagi menjadi lima tahap. Kelima tahap tersebut diawali dengan tahap barter, uang barang, uang logam, uang kertas, dan terakhir uang bank.
a. Tahap barter
Tahap barter terjadi pada lingkungan masyarakat sederhana yang pemenuhan kebutuhan hidupnya dilakukan melalui tukar-menukar. Cara seperti ini disebut barter atau dikenal dengan istilah innatura. Pertukaran innatura dapat terjadi apabila terdapat dua orang saling membutuhkan barang. Kesulitan-kesulitan yang dihadapi dalam tahap barter, antara lain:
1) sulit menemukan pihak-pihak yang saling membutuhkan,
2) kesulitan dalam menentukan nilai tukar barang,
3) sulit membagi-bagi barang yang akan dipertukarkan.

b. Tahap uang barang
Uang barang adalah barang yang dapat berfungsi sebagai uang. Syarat barang dapat digunakan sebagai uang barang adalah barang tersebut dapat diterima semua orang (generally accepted) dan bernilai tinggi. Uang barang juga dapat berupa barang-barang kebutuhan sehari-hari. Ada beberapa kesulitan yang terjadi dalam tahap uang barang, antara
1) tidak memiliki pecahan,
2) sulit untuk menyimpan (storage) dan mengangkut (transportation) dalam jumlah besar,
3) hanya beredar di daerah tertentu.

c. Tahap uang logam
Kesulitan yang timbul dari penggunaan uang barang menyebabkan manusia berusaha menciptakan uang logam yang terbuat dari emas dan perak. Emas dan perak digunakan sebagai uang karena memiliki nilai tinggi, langka, dapat diterima secara umum, dapat dipecah-pecah tanpa mengurangi nilai, tidak mudah susut, dan kemungkinan rusak sangat kecil. Penggunaan uang logam ternyata masih mengalami beberapa kesulitan, antara lain:
1) emas dan perak di beberapa daerah merupakan barang langka, sehingga dibatasi penggunaannya,
2) nilai emas belum tentu dapat dikaIkulaslan secara kuantitatif, sebab belum ada pengaturannya,
3) persediaan emas tidak sama pada tiap daerah, karena pemilikan sumber daya alam yang tidak merata,
4) emas sulit dipindahkan dalam jumlah besar dan tidak aman.

d. Tahap uang kertas
Kesulitan yang timbul akibat penggunaan uang logam menyebabkan masyarakat mencari alternatif lain sebagai alat tukar. Pemerintah kemudian mengeluarkan uang kertas. Uang kertas juga disebut dengan uang kepercayaan atau mata uang fidusiar (fiduciary money). Fiduciary money adalah mata uang yang tidak sepenuhnya dijamin dengan emas atau perak, tetapi nilainya dapat dipertahankan. Nilai tersebut dapat dipertahankan karena kepercayaan masyarakat kepada pemerintah. Beberapa keuntungan penggunaan uang kertas, yaitu:
1) biaya pembuatan lebih murah dibandingkan uang logam,
2) pengiriman dalam jumlah besar menjadi lebih mudah dan efektif,
3) penambahan atau pengurangan jumlah uang yang beredar dapat dilakukan dengan cepat,
4) dengan adanya uang kertas, logam mulia seperti emas dan perak dapat digunakan untuk keperluan lain.

e. Tahap uang bank
Perkembangan teknologi informasi di bidang perbankan mendorong timbulnya uang bank. Uang ini lebih dikenal uang giral. Untuk mempermudah pelaksanaan transaksi jual beli, bank mengeluarkan alat pembayaran berupa cek atau giro. Cek adalah perintah tertulis pada bank untuk membayarkan sejumlah uang kepada orang yang ditunjuk oleh cek tersebut. Giro merupakan simpanan pada bank yang penarikannya dapat menggunakan cek, surat perintah pembayaran yang lain, atau dengan cara pemindahbukuan.