Minggu, 03 Mei 2015

Pengertian rasional

Rasional adalah kecocokan antara nilai-nilai tertentu dengan hasil-hasil yang sudah sewajarnya. Jika seseorang berbuat kebaikan, maka adalah hal yang wajar jika ia mendapatkan ucapan terima kasih atau bahkan hadiah. Jika ia berbuat keburukan, maka ia akan mendapatkan cacian atau hukuman. Itulah yang disebut dengan rasional. Logikanya hampir seperti satu tambah satu sama dengan dua. Merupakan suatu kepastian jika berbuat positif maka akan mendapat hasil positif, dan sebaliknya. Meski mungkin ada penyimpangan, misalnya kita berbuat hal yang baik tapi justru kita dihina, tapi itu jarang terjadi. Dalam kehidupan bermasyarakat yang kompleks memang ada saja orang-orang baik yang justru dihinakan, orang-orang yang bermoral buruk malah dipuji-puji. Itulah dinamika kehidupan. Hal yang sebenarnya rasional menjadi irasional jika sudah berhubungan dengan kehendak egois seseorang atau sekelompok orang.

Hal lain yang mempengaruhi misalnya kepribadian manusia itu sendiri. Contohnya kita menolong orang yang mempunyai karakter sombong dan angkuh, bukannya mendapat ucapan terima kasih, tapi kita justru mendapatkan omongan yang ketus. Mungkin ia merasa derajatnya lebih tinggi karena ia orang kaya sehingga ia merasa gengsi jika harus berterima kasih kepada orang yang status sosialnya di bawah dia. Secara rasional, kita beranggapan akan menerima ucapan terima kasih. Tapi nyatanya justru kebaikan kita dibalas omongan yang ketus. Yang terbaik yang bisa kita lakukan hanyalah menyadari fakta bahwa ia adalah orang yang angkuh dan suatu hal yang rasional jika orang berkarakter angkuh akan berat untuk menghargai orang lain. Jadi, walaupun secara nilai-nilai moral rasionalisme adalah bisa diprediksi, tapi dinamika kehidupan yang bervariasi bisa saja membelokkan nilai-nilai tersebut. Yang penting kita terus berpegang teguh kepada nilai-nilai kebaikan, karena walaupun sesekali kebaikan tidak dianggap, setidaknya kita masih akan sering menemukan penghargaan terhadap perbuatan baik.

Selasa, 28 April 2015

Pengertian produksi

Produksi adalah aktivitas seseorang untuk membuat sesuatu benda atau keahlian yang standarnya biasa saja menjadi suatu barang atau jasa yang mampu membawa kepuasan bagi orang yang menggunakannya. Jadi intinya, ada perubahan kualitas dari sesuatu benda atau keahlian tersebut menjadi sesuatu barang atau jasa yang mempunyai kualitas tinggi dan bisa dijual kepada orang lain (konsumen) atau hanya untuk dipakai sendiri. Produksi bisa berupa produksi barang maupun produksi jasa. Contoh dari produksi barang adalah Amir memiliki sebidang tanah di kampungnya yang mempunyai potensi barang modal berupa tanah liat. Memang, tanah liat itu bisa dijual kepada orang lain secara langsung. Tapi Amir memutuskan untuk menggunakan tanah liat itu sebagai modal untuk memproduksi genteng. Dengan mengkombinasikan tanah liat dengan berbagai macam bahan lainnya, Amir mampu memproduksi genteng dan menjual hasil produksinya kepada para konsumen.

Sementara itu, contoh dari produksi jasa adalah Noni memiliki keahlian bermain tenis. Setelah berlatih selama bertahun-tahun, Noni mampu meraih prestasi di turnamen-turnamen tenis, sehingga keahliannya telah diakui oleh orang banyak dan layak untuk menerima murid. Noni menggunakan peluang itu dengan membuka kursus bermain tenis. Setiap murid yang belajar darinya harus membayar sejumlah tarif latihan per jam. Selain dari tarif latihan, Noni juga mendapatkan tambahan penghasilan dari sewa lapangan yang digunakan untuk berlatih. Disini, Noni telah memproduksi dan menjual jasa dari keahliannya bermain tenis.

Kegiatan produksi merupakan tulang punggung dari kemakmuran individu dan negara. Jika individu dan negara tidak memiliki kemampuan untuk melakukan kegiatan produksi, maka mereka tidak akan memiliki keahlian untuk menghasilkan sejumlah pendapatan. Sehingga sangat sulit untuk mencapai kemakmuran. Oleh karena itu, keahlian produksi harus dimiliki dan semakin ditingkatkan kualitasnya.

Senin, 27 April 2015

Pengertian konsumsi

Anda membeli sekotak kue di toko kue paling enak di kota anda. Sesampainya di rumah, anda lalu memakan kue tersebut bersama keluarga tercinta. Apa yang anda lakukan tersebut merupakan kegiatan konsumsi. Karena memakan kue adalah kegiatan yang menghabiskan nilai kue tersebut. Juga menggunakan mobil, membaca buku, memakai komputer, bermain game, memakai sepatu, dan membeli rumah adalah juga termasuk kegiatan konsumen dalam mengkonsumsi. Jadi, berdasarkan contoh-contoh tersebut, apa arti dari konsumsi? Konsumsi adalah aktivitas memakai, menggunakan, menghabiskan atau memanfaatkan suatu benda atau jasa yang sebelumnya telah dibeli. Dalam kegiatan tersebut, nilai suatu benda akan berkurang atau bahkan akan habis. Contohnya jika anda membeli sebuah mobil. Mobil tersebut anda pakai untuk membawa anda ke tempat kerja setiap hari. Nilai dari mobil tersebut lama-kelamaan akan berkurang. Jika mobil tersebut kemudian anda jual, biasanya harga yang anda peroleh lebih rendah dari harga yang anda bayarkan saat pertama kali membelinya. Karena setelah anda menggunakannya, mobil tersebut telah berkurang statusnya menjadi mobil bekas, bukan lagi mobil baru. Tentu pembeli mobil anda tidak ingin membayar lebih tinggi karena nilainya sudah berkurang.

Bagaimana dengan jasa? Jika anda ingin pergi ke pasar, misalnya anda menggunakan jasa seorang tukang becak. Anda membayar sejumlah tarif agar tukang becak tersebut mengantarkan anda ke pasar yang anda tuju. Aktivitas anda dalam memakai jasa tukang becak juga merupakan suatu konsumsi. Si tukang becak menawarkan jasanya kepada anda, dan anda bersedia mengeluarkan sejumlah uang untuk memakai jasa yang ditawarkan tersebut. Jadi, konsumsi bukan hanya pada barang atau benda, melainkan juga pada jasa. Apakah sekarang anda telah mengerti tentang konsep konsumsi?

Minggu, 26 April 2015

Pengertian ekonomi

Ekonomi selalu dikaitkan dengan permasalahan yang dihadapi oleh setiap orang dalam misinya untuk mengejar kepuasan maksimum dari apa yang diinginkannya. Setiap orang di dunia ini bekerja keras untuk mendapatkan uang. Uang itu kemudian digunakan untuk membeli satu atau beberapa barang dan jasa sekaligus. Misalnya Pak Andi memproduksi mebel rotan untuk dijual atau diekspor ke luar negeri. Pak Andi mendistribusikan hasil kerajinan mebel rotannya dengan memakai jasa perusahaan pengangkutan luar negeri. Dari hasil penjualannya, Pak Andi lalu mendapatkan sejumlah keuntungan, yang mana sebagian keuntungan tersebut dipakai oleh Pak Andi untuk konsumsi sehari-hari. Coba perhatikan, apa yang dilakukan Pak Andi secara garis besarnya adalah berupa kegiatan produksi, distribusi, dan konsumsi.

Dilihat dari definisi per kata-nya, ekonomi berarti kegiatan mengatur rumah tangga. Lalu apa tujuan dari kegiatan tersebut? Yaitu untuk memaksimalkan potensi kemampuan atau sumber daya yang dimilikinya agar meraih tingkat hasil tertinggi. Poin utamanya disini adalah melakukan pengaturan sumber daya. Bisa dikatakan juga suatu manajemen rumah tangga. Di dalam suatu rumah tangga, tentu memiliki sejumlah sumber daya yang berbeda-beda. Seperti misalnya, keahlian manajemen, modal uang, modal barang, dan lain sebagainya. Nah, ilmu ekonomi disini berperan untuk memahami cara pengaturan yang paling efektif agar kombinasi segala sumber daya tersebut bisa menghasilkan kepuasan yang tertinggi. Kepuasan tersebut adalah sejumlah keuntungan berupa uang. Keuntungan tersebut lalu diusahakan untuk semakin terakumulasi sehingga pelaku kegiatan ekonomi akan mampu untuk menikmati kesejahteraan dalam hidupnya.

Jadi, ekonomi mempunyai peranan yang sangat penting sekali bagi para individu maupun kelompok yang ingin meningkatkan kualitas hidupnya menuju kesejahteraan. Jika tidak mempunyai pemahaman ekonomi yang mencukupi, maka kecil kemungkinannya untuk mampu keluar dari kehidupan yang biasa menuju ke kehidupan yang makmur.

Sabtu, 25 April 2015

Pengertian distribusi

Jika anda ingin memperoleh suatu barang, apakah anda akan mencarinya ke produsen langsung? Atau langsung ke pabriknya? Mungkin anda akan mendapatkan barang yang anda inginkan, tapi pada umumnya anda akan pergi ke suatu toko terdekat di rumah anda dan membeli barang tersebut. Lalu apakah toko tersebut memproduksi sendiri barang itu? Tentu saja tidak. Toko tersebut hanya berperan untuk menjualkan barang milik produsen. Jadi, toko bisa dibilang mempunyai peran untuk mendistribusikan atau menjualkan barang tersebut kepada anda.

Dengan deskripsi di atas, bisa dikatakan bahwa distribusi adalah aktivitas menyalurkan barang dari pabrik atau seseorang yang memproduksi suatu barang kepada pembeli yang membutuhkan barang tersebut. Orang atau lembaga yang menyalurkan barang kepada pembeli disebut distributor. Dalam aktivitasnya menyalurkan barang tersebut, distributor memperoleh keuntungan dari kelebihan harga yang diterapkan di atas harga produsen. Walaupun mungkin keuntungan yang diperoleh oleh distributor lebih kecil daripada keuntungan yang didapat oleh pemilik toko, volume penjualan yang besar dan jaringan penjualan yang luas akan membuat distributor memperoleh keuntungan besar. Apalagi jika oleh produsen, seseorang atau lembaga tersebut ditunjuk sebagai satu-satunya distributor, alias distributor tunggal, tentu banyak keuntungan yang bisa diraih.

Dalam perekonomian, kegiatan distribusi adalah sektor yang sangat vital. Tanpa distribusi, barang yang diproduksi oleh pabrik tidak akan sampai ke konsumen. Jika barang tidak sampai ke tangan konsumen, maka darimana pabrik akan memperoleh keuntungan untuk melanjutkan kegiatan produksinya? Maka dari itu, hubungan kerja antara produsen dan distributor biasanya sangat erat dan saling menguntungkan. Masing-masing dari mereka saling membutuhkan. Jadi, kegiatan distribusi tidak akan bisa dilepaskan dari kegiatan produksi. Dua-duanya elemen yang sangat penting dalam lancarnya kegiatan ekonomi.

Jumat, 24 April 2015

Pengertian barang

Coba lihat ke dalam kamar anda, ada apa sajakah? Mungkin anda akan melihat tempat tidur, lemari pakaian, meja belajar, rak buku, rak sepatu, kursi, TV, DVD player, sepatu, sandal, dan lain sebagainya. Anda akan mengatakan bahwa itulah yang dimaksud dengan barang. Suatu objek yang bisa anda manfaatkan untuk keperluan hidup anda, yang memiliki suatu nilai tertentu sehingga saat anda menggunakannya, anda akan merasa telah mendapatkan suatu manfaat atau keuntungan. Di manakah anda akan tidur jika anda tidak memilki tempat tidur? Di mana anda akan menyimpan pakaian anda? Apa yang akan anda pakai di kaki anda jika anda ingin ke luar rumah? Semua objek yang anda pakai atau manfaatkan itu memiliki suatu nilai guna yang memberikan anda kenyamanan dan manfaat. Sesuatu yang berwujud dan bernilai ekonomis, itulah yang disebut dengan barang. Jika sesuatu tersebut tidak memiliki manfaat, maka hanya bisa disebut sebagai suatu benda.

Kehidupan keseharian kita tentu tidak akan pernah lepas dari menggunakan sesuatu barang. Suatu objek yang bisa dipegang, dirasakan, dimanfaatkan dan bahkan bisa dibawa kemana saja merupakan definisi dari barang. Ciri-cirinya antara lain mempunyai perwujudan, punya nilai tertentu dan manfaat spesifik yang bisa dirasakan saat digunakan, serta nilainya bisa berkurang jika terus-menerus digunakan.

Ada berbagai macam barang berdasarkan cara memperoleh, kegunaan, proses pembuatan, dan berdasarkan hubungannya dengan barang lain. Tapi, pada intinya, kita semua memiliki kesempatan yang sama untuk memperoleh barang yang kita inginkan, tergantung dari seberapa besar kemampuan kita untuk mendapatkannya. Kita hidup di suatu sistem ekonomi yang membolehkan kita untuk berusaha mendapatkan segala yang kita inginkan dengan cara-cara yang sah.

Sabtu, 10 Januari 2015

Tujuan jangka panjang promosi

Perlu senantiasa diingat bahwa para pemasar tidak menyelenggarakan tindakan promosi hanya sekedar untuk memberikan informasi, untuk memberikan pendidikan dan untuk memberikan hiburan.

Mereka melaksanakan komunikasi dengan individu-individu, dengan kelompok-kelompok atau organisasi-organisasi guna melancarkan pertukaran-pertukaran.

Salah satu tujuan jangka panjang promosi adalah mempengaruhi dan merangsang para pembeli untuk menerima atau mengadopsi barang-barang.

Dalam hubungan ini perlu kita mengingat bahwa proses adopsi sesuatu produk bukanlah merupakan sebuah proses satu langkah. Diterimanya sesuatu produk justru merupakan suatu proses yang terdiri dari macam-macam tahapan dan langkah (A multistep process).

Walaupun ada macam-macam cara untuk memperbincangkan proses adopsi produk, dapat dikemukakan bahwa salah satu pendekatan yang banyak dimanfaatkan adalah memandangnya sebagai suatu proses yang terdiri dari 5 macam tahapan.

Adapun tahapan tersebut sebagai berikut :
Tahap I — Disadarinya adanya sesuatu produk baru yang sebelumnya belum diketahui (AWARENESS);
Tahap II — Timbulnya minat terhadap produk tersebut (INTEREST):
Tahap III — Dilaksanakannya pengevaluasian (EVALUATION);
Tahap IV — Diuji-cobanya produk tersebut (TRIAL);
Tahap V — Diterimanya produk tersebut (ADOPTION).

Keterangan :
Pada tahap I (Awareness), para individu mulai menyadari bahwa produk yang bersangkutan ada, tetapi mereka tidak memiliki banyak informasi tentangnya dan mereka tidak bergairah untuk mendapatkan lebih banyak informasi.

Mereka mulai memasuki tahapan "interest", sewaktu mereka termotivasi untuk mendapatkan informasi tentang sifat-sifat, kegunaan, keuntungan penggunaan kerugian penggunaan, harga atau tempat produk yang bersangkutan.

Selama fase evaluasi, maka para individu tersebut mempertimbangkan apakah kiranya produk tersebut akan memenuhi kriteria tertentu, yang bersifat kritikal bagi kebutuhan-kebutuhan khusus mereka.

Pada tahapan percobaan (Trial) mereka mencoba menggunakan produk tersebut untuk pertama kalinya, dengan jalan misalnya membeli jumlah sedikit dari produk tersebut, atau mencoba menggunakan sampel gratis, atau meminjam produk tersebut dari teman-teman mereka.

Kemudian para individu memasuki tahapan adopsi, sewaktu mereka memilih produk spesifik tersebut, sewaktu mereka memerlukan produk tertentu dengan tipe umum demikian.

Tetapi, kelirulah apabila kita menganggap bahwa seseorang individu karena ia memasuki proses adopsi, bahwa ia akhirnya akan menerima produk baru tersebut. Keputusan penolakan (Rejection) dapat saja terjadi pada setiap tahapan, termasuk pada tahapan adopsi.
Baik adopsi produk maupun penolakan produk, dapat bersifat sementara, atau permanen.

Apabila sebuah organisasi mengintroduksi produk baru tertentu di pasaran, maka orang-orang tidak semua memulai proses adopsi pada saat yang bersamaan, dan mereka tidak bergerak melalui proses tersebut dengan kecepatan yang sama.

Ada yang memasuki proses tersebut agak cepat, dan ada pula yang memasuki proses tersebut agak lambat.

Dan sudah tentu, untuk kebanyakan produk, terdapat adanya kelompok yang dinamakan "Nonadopters" yang tidak pernah memulai proses adopsi.

Menurut Everett M. Rogers terdapat adanya lima kategori pihak yang mengadopsi sesuatu produk, yang masing-masing dinamakannya :
I. Para INNOVATOR:
II. Kelompok EARLY ADOPTERS:
III. Kelompok EARLY MAJORITY;
IV. Kelompok LATE MAJORITY;
V. Kelompok LAGGARDS.

Keterangan :
Para inovator, merupakan kelompok pertama yang mengadopsi sebuah produk baru. Mereka amat senang mencoba sesuatu produk baru, dan mereka senang berpetualang dalam hal mencoba produk baru.

Kelompok ke II (EARLY ADOPTERS) yaitu pihak yang mengadopsi sesuatu produk secara dini, memilih produk-produk baru secara hati-hati, dan mereka sering dianggap oleh kategori-kategori pengadopsi lainnya sebagai kelompok yang dapat diminta pendapat mereka.

Para individu pada kelompok ke III, (EARLY MAJORITY), kelompok majoritas dini, melaksanakan tindakan adopsi, sebelum hal tersebut dilakukan orang rata-rata. Mereka penuh pertimbangan dan hati-hati dalam hal memilih dan mencoba produk baru.

Kelompok ke IV (LATE MAJORITY) merupakan orang-orang yang skeptis tentang produk-produk baru; mereka eventuil akan mengadopsi produk-produk baru karena terdorong oleh karena kebutuhan ekonomi atau karena adanya tekanan sosial.

Akhirnya kelompok ke V (LAGGARDS) yaitu kelompok konsumen yang "terlambat" mengadopsi produk baru, barulah pada akhirnya mengadopsinya, karena mereka berorientasi pada masa lampau.

Mereka cenderung mencurigai produk-produk baru, dan sewaktu akhirnya mereka menerimanya, ada kemungkinan bahwa produk tersebut sudah mulai diganti produk yang lebih baru lagi.

Dalam rangka melaksanakan upaya-upaya promosional, maka setiap pemasar perlu mengingat bahwa orang-orang yang berada pada kategori pengadopsi yang berbeda-beda, seringkali memerlukan bentuk-bentuk komunikasi yang berbeda-beda dan tipe-tipe informasi yang berbeda-beda pula.