Jumat, 30 November 2012

Peninggalan sejarah kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha

Kerajaan-kerajaan becorak Hindu-Buddha yang pernah berjaya pada masa perkembangan agama Hindu-Buddha, meninggalkan beberapa peninggalan yang hingga saat ini masih dapat kita lihat. Peninggalan-peninggalan tersebut menjadi sumber sejarah mengenai kehidupan kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha di Indonesia. Berikut ini beberapa contoh peninggalan sejarah tersebut.

1. Yupa
Sumber sejarah Kerajaan Kutai berasal dari tujuh buah prasasti yang dipahatkan pada tiang batu yang disebut yupa. Nama yupa diambil dari tulisan pada prasasti tersebut. Diperkirakan yupa ditulis pada abad V masehi dengan menggunakan huruf Pallawa dengan bahasa Sanskerta. Yupa-yupa itu dibuat atas perintah Raja Mulawarman dan menerangkan hal-hal berikut ini.
a.    Silsilah Mulawarman sebagai raja termasyhur di Kerajaan Kutai sekaligus kemuliaan Raja Mulawarman.
b.    Hadiah Mulawarman kepada para brahmana.

2. Prasasti
Prasasti merupakan sumber sejarah yang sering dirujuk oleh sejarawan atau arkeolog untuk membuka kisah sejarah yang terjadi pada masa kerajaan-kerajaan di Indonesia. Beberapa prasasti yang cukup penting bagi sejarah Indonesia antara lain Ciaruteun (Tarumanegara), Canggal (Mataram Kuno), Mula Malurung (Singasari), Kedukan Bukit (Sriwijaya), dan Bulak (Majapahit).

3. Karya sastra
Kerajaan-kerajaan bercorak Hindu-Buddha banyak meninggalkan karya sastra. Hasil karya sastra di Indonesia dapat dikelompokkan menurut zamannya sebagai berikut.
a.    Zaman Mataram Kuno: Ramayana dan Mahabharata.
b.    Zaman Majapahit: Negarakertagama, Sutasoma, Arjunawiwaha, Pararaton, dan Calon Arang.
c.    Zaman Kediri: Kresnayana, Smaradahana, Bharatayuda, dan Gatotkacasraya.

4. Candi
Candi-candi yang ditemukan di Indonesia pada dasarnya merupakan wujud akulturasi. Dasar bangunan candi merupakan hasil budaya bangsa Indonesia dari zaman Megalitikum, yaitu bangunan punden berundak. Punden berundak ini mendapat pengaruh Hindu-Buddha sehingga menjadi wujud sebuah candi.

Di India candi dibangun untuk pemujaan kepada dewa. Namun, di Indonesia selain dibangun untuk pemujaan kepada dewa, candi juga berfungsi sebagai tempat pemujaan kepada roh nenek moyang. Dalam membangun candi, seniman Indonesia hanya menggunakan dasar-dasar teoritis yang tercantum dalam kitab Silpasastra yaitu kitab tentang petunjuk pembuatan arca dan bangunan. Bangsa Indonesia hanya mengambil unsur budaya India sebagai dasar. Hasilnya bergantung pada kreativitas bangsa Indonesia sendiri. oleh karena itu, di Indonesia ditemukan banyak candi bercorak khas Indonesia. Candi-candi itu antara lain Borobudur, Prambanan, Gedong Sanga, Sambisari, Mendut, Kalasan, dan Panataran.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar