Minggu, 19 Mei 2013

Jenis manusia purba di Indonesia

Berdasarkan penemuan para ahli dapat diketahui adanya beberapa jenis manusia purba yang berhasil ditemukan di Indonesia, di antaranya adalah:

Meganthropus Paleojavanicus
Meganthropus berarti manusia besar. Fosil ini ditemukan di Sangiran oleh von Koenigswald pada tahun 1941 berupa sebagian rahang bawah yang jauh lebih besar dan kuat dari Pithecanthropus erectus. Para ahli memperkirakan bahwa fosil ini adalah makhluk tertua yang pernah hidup di Pulau Jawa.

Pithecanthropus
Pithecanthropus berarti manusia kera. Fosil jenis pithecanthropus ini ditemukan di Trinil Desa Ngawi, Perning daerah Mojokerto, Sangiran, Kedung Brubus, Sambung Macan, dan Ngandong.

Eugene Dubois menyimpulkan bahwa fosil ini memiliki volume otak 900 cc yang lebih kecil dibandingkan dengan volume otak manusia yang di atas 1000 cc dan volume otak kera yang tertinggi hanya 600 cc. Volume otak dari fosil itu berada di antara volume otak kera dan manusia. Oleh karena itulah, fosil ini disebut pithecanthropus yang berarti manusia kera.

a) Pithecanthropus erectus
Pithecanthropus erectus berarti manusia kera yang sudah dapat berjalan tegak. Penelitian itu didasarkan pada penemuan tulang rahang, dua geraham, bagian atas tengkorak, dan tulang paha kiri. Volume otaknya berada di antara volume otak kera dan manusia. Tulang paha menunjukkan bahwa makhluk itu sudah berjalan tegak. Itulah sebabnya, Eugene Dubois menyimpulkan bahwa hasil temuannya itu disebut pithecanthropus erectus yang berarti manusia kera yang sudah dapat berjalan tegak.

b) Pithecanthropus mojokertensis
Pithecanthropus mojokertensis berarti manusia kera dari Mojokerto. Fosil ini ditemukan dan diteliti oleh von Koenigswald antara tahun 1936-1941, di daerah Perning, Mojokerto. Hasil penemuannya berupa tengkorak anak-anak. Von Koenigswald memperkirakan tengkorak anak yang ditemukan itu adalah fosil yang berasal dari anak-anaknya pithecanthropus.

c) Pithecanthropus soloensis
Pithecanthropus soloensis berarti manusia kera dari Solo. Fosil ini ditemukan di daerah Ngandong, lembah sungai Bengawan Solo antara tahun 1931-1934. Hasil penemuannya berupa 11 buah fosil tengkorak, tulang rahang, dan gigi. Fosil ini diteliti oleh von Koenigswald dan Weidenrich. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa makhluk ini lebih tinggi tingkatannya dari makhluk pithecanthropus erectus.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar