Selasa, 28 Mei 2013

Pengertian syair

Syair merupakan simbol bahasa yang digunakan oleh komponis dalam mengekspresikan perasaan untuk mempermudah pendengar dalam mencerna karya musiknya. Lagu daerah biasanya memakai bahasa daerah tersebut dalam menuturkan isi lagunya. Dalam syair terkadang komponis mengadakan perulangan. Pengulangan melodi atau syair merupakan salah satu cara untuk memberi penekanan pada emosi lagu tersebut.

Sajak syair
Dalam susunan vertikal pada akhir baris atau frase musik, syair lagu pada musik daerah dapat bervariasi. Kita bisa membuat syair bersajak sama (aaaa, bbbb), bersajak selang (abab), bersajak peluk (abba), bersajak pasang (aabbcc), atau bersajak patah (abcb, aaba).

Bentuk syair
a. Syair terikat
Syair lagu daerah klasik biasanya terikat oleh aturan tertentu. Di beberapa daerah, syairnya berbentuk pantun. Bentuk pantun dikenal dengan nama yang berbeda-beda di tiap daerah. Misalnya: panton (Aceh dan Ambon), umpama (Batak Toba), ende-ende (Mandailing), rejong (Bengkulu), parikan dan lagu ludrug (Jawa), serta sesindiran, sesuwalan, dan lagu doger (Sunda). Pantun berisi beragam perasaan rakyat, sehingga disebut syair rakyat.

Di daerah Jawa dan Sunda, ada syair yang memakai pedoman pupuh (tembang). Pedoman itu mengatur: banyaknya baris dalam satu bait (padalisan atau guru gatra), banyaknya suku kata dalam tiap baris (guru wilangan), bunyi vokal untuk akhir baris (guru lagu), dan watak tertentu dari lagu.

b. Syair bebas
Syair jenis ini tidak punya pedoman dalam penyusunannya. Syair bergerak bebas bagaikan air mengalir. Banyak lagu daerah menggunakan syair bebas. Namun, syair dan melodi yang dibuat tetap memiliki bentuk tertentu yang menjadi ciri khas daerah tersebut.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar